Alegoria; Sang Biarawati [bagian 1]
Hari
ini adalah hari kebaktian. Alegoria adalah seorang biarawati taat yang
meinghibahkan dirinya pada ordo St.Benedict. Ordo Benedictines, dibangun oleh
St. Benedict (480- 543 M) di Murcia, Italia, terdiri atas rahib-rahib lelaki
dan rahib-rahib wanita yang menyerahkan hidupnya untuk berkalwat dan beribadat.
St. Benedict menetapkan tata tertib yang mesti ditaati setiap anggota ordo,
terhimpun dalam sebuah buku bernama Regula Monachuorum (Peraturan bagi para
Rahib). Tujuan ordo itu mencapai hidup suci Menjelang Sinodi Lateran (Lateran
Synod) pada tahun 1509 M. Itu satu-satunya ordo yang bersifat kerahiban
sepenuhnya.
Dari
pukul empat subuh, Alegoria sudah bangun untuk menyiapkan seluruh kebutuhan
gereja pada kebaktian pagi ini. Alegoria hidup di pondokan yang diperuntukan
untuk para biarawati di sekitar lingkungan gereja. Hampir setiap pagi ia bangun
lebih awal untuk bersimpuh dihadapan Sang perawan Suci, memunajatkan
harapan-harapan kekal, menitikkan air mata sembari mengeratkan simpul tangan
didepan dadanya yang tergelantung salib perak pemberian ibunya. Setelah Ia
bersembahyang, lekaslah ia mengambil lilin-lilin yang tersimpan di dalam almari
gereja. Menempatkan pada bidakannya, nampak lelehan lilin yang tebal pada
sudut-sudut lingkaran bidakan, lelehan lilin pada bidakkannya mengguratkan
bahwasannya tempat ini bukanlah tempat biasa. Tempat ini adalah Gereja tua yang
dibangun pada abad enam belas dengan ornamen-ornamen tua yang terkesan
menyeramkan, namun sangatlah spiritual. Penanda dengan banyaknya semayam doa
yang bertengger di langit-langit gereja. Langit-langit yang ada di atasnya
terdapat gambar bayi-bayi yang bersayap melingkari seorang wanita yang
menggendong bayi telanjang, sang bayi itu memiliki lingkaran cahaya di atas
kepalanya. Sementara sang wanita nampak memiliki paras yang indah menandakan
kasih sayangnya terhadap sang bayi. Hampir seluruh dinding atas gereja ini
dipenuhi dengan lukisan serupa. Alegoria menyalakan lilin paling atas, cahanya
serentak menabrak dinding tebal yang berselimutkan lumut yang hijau
kehitam-hitaman. Semenit kemudian altar yang berada didepan nampak terlihat
dengan cahaya remang-remang lilin. Pukul sepuluh nanti gereja tua ini akan
dipenuhi oleh jemaat yang berdatangan dari sudut-sudut pedesaan. Membawa sejuta
harapan demi kehidupan kelak.
Alegoria
pun berjalan menuju kamar belakang gereja. Langkahnya sangatlah pelan, nampak
ujung jubahnya menyisir undakan lantai, menerbangkan debu-debu halus di udara.
Ia menuju almari dan Membuka lemari yang berisikan kitab-kitab tua yang sedikit
berdebu. Matanya tertuju pada salah satu buku karangan St. Benedict, Regula
Monachuorum, matanya tertuju pada halaman yang sudah sedikit kusam, banyak
lipatan pada halaman itu. Hatinya serasa tentram ketika membaca buku yang
berumur ratusan tahun itu. Matanya
menjadi sedikit berair sementara
benaknya terus mengikuti huruf-huruf latin yang kecil-kecil, sesekali ia
menyeka matanya. beberapa menit kemudian ia mendengar suara seperti pintu
dibuka. Nampaknya Anne sahabatnya sudah bangun.
"Nampaknya
akhir-akhir ini kau selalu bangun lebih awal Gorie" Anne mendekati Gorie,
melewatinya dan duduk di depannya.
"Entahlah
aku ingin selalu lebih awal bangun, Bukankah Maria Sang Perawan Suci
menginginkan kita agar taat dalam waktu"
"Itulah
yang membuat aku berpikir lain, bukankah Istirahat juga membutuhkan waktu
Gorie!!" Anne lekas berdiri dari tempat duduknya, berdiri dan berjalan
mendekati cerobong asap dan menyalakannya"
"Aku
lebih Nyaman dengan kesibukanku pada pagi hari dibandingkan tidur dengan Iman
yang tipis"
"Kurasa
alangkah baiiknya menyibukkan diri dengan berdoa lebih awal" Gorie
menambahkan seketika.
"Mudah-mudahan
engkau mampu mempertahankannya"
"Amien,
Mudah-mudahan Maria bersamamu Anne" Gorie menggerakkan tanggannya seakan
melukis udara dengan gambar salib di hadapan Anne"
Kabut
tipis mulai tergantikan dengan cahaya matahari. Menembus rerantingan pepohonan. Masuk kedalam melewati
cermin-cermin keramik berwarna. Anne dan Gorie lekas menuju pondokan yang
hampir setengah bangunannya tersirami cahaya matahari. Alegoria masih membawa
buku ditangannya, Baginya buku ini adalah jalan menuju kasih Maria. Ia masuk
dikamarnya, membereskannya sedikit dan bergegas menuju kamar mandi.
Diletakannya buku itu dengan rapi di atas meja bacanya, sedetik kemudian ia
membuka penutup kepalanya, nampaknya rambut hitam kemerah-merahan terurai jatuh
dipundaknya.
Alegoria
adalah gadis keturunan Italia dan Polandia, nenek moyangnya adalah pengikut
taat Ordo St. Benedict, para keturunannya dididik taat sesuai ajaran yang turun
temurun di ajarkan dalam keluarganya. Ibu Alegoria adalah Seorang gadis desa
yang tinggal jauh dipedalaman itali, menikah dengan seorang pedagang Polandia
yang kerap kali mengunjungi keluarganya di utara itali, Verona. Semenjak kecil
Alegoria memiliki kepribadian yang pendiam dan sering menghabiskan banyak
waktunya di bawah pohon ceril dibelakang rumahnya. Dibawah pohon itulah
Alegoria sering bermain sampai matahari menjatuhkan dirinya pada dedalaman
perut bumi. Namun suatu kejadian yang paling mengiris hatinya adalah ketika ia
sering mendapati lebam-lebam pada tubuh ibunya. Ibunya hanya tersenyum ketika
Gorie kecil sering bertanya tentang hal itu. Sampai suatu malam Gorie kecil
terbangun pada malam dipertengahan musim dingin, mendapati Ibunya dan Ayahnya
duduk terdiam di samping perapian. Nampak Ibunya sesekali menyeka air matanya
dengan sapu tangan yang dipegangya. Ayahnya hanya terdiam dengan peristiwa itu.
Ia duduk sembari menundukkan kepalanya menatap undakan lantai yang gelap.
Dibelakang ayahnya terdapat koper yang isinya hanya dilemparkan begitu saja
kedalamnya, terlihat ujung-ujung baju di pertemuan kedua tutupan koper.
Alegoria hanya bisa menyaksikan dibalik pintu dengan menyembunyikan diri
sembari menajamkan telinganya berusaha ingin mendengarkan pembicaraan yang ia
saksikan.
Namun
Gorie hanya mendengar sesesakan isak tangis Ibunya. Suasana begitu diam, yang
ada hanya bebunyian suara kayu terbakar di perapian membakar kayu yang
mengeluarkan minyak dan bebauan khas kayu cemara. Sesekali bunyi itu berlomba
dengan suara tangis Ibunya. Beberapa waktu kemudian Ayahnya berdiri dan menatap
ibunya seakan-akan hendak meninggalkan Ibunya selama-lamanya. Ia mengeluarkan
lipatan kertas dari saku bajunya dan meletakkannya di atas meja, Kemudian tanpa
sekata pun berbalik dan melangkah menuju kopernya. Ibunya hanya mengeluarkan
sesak tangis yang ditahan, takut akan Gorie kecil yang nantinya terbangun,
namun apa daya Gorie kecil hanya terpaku dibalik persembunyiannya menahan
beribu tanya dalam emosinya yang tak ia kenali. Seketika Udara dingin masuk
keruangan itu, memenuhinya dengan suara yang riuh, diluar udara seakan
berkecamuk dengan angin dari negeri entah berantah. Seketika Ayahnya hilang
dari pandangan dan Isak ibunya pecah menggantikan udara yang dingin. Kini Isak
ibunyalah yang berkecamuk.
***
Semenjak
peristiwa pada pertengahan musim dingin itulah, Alegoria sering menyendiri
hidup berdua dengan Ibunya. Menghabiskan waktunya membantu Ibunya dari pagi
hingga petang. Namun Gorie kecil tak pernah mengendapkan kejadian pada beberapa
tahun yang silam dimana ia ditinggalkan oleh Ayahnya. Ibunya pun hanya
tersenyum dan seringkali menyuruh seketika jika Gorie kecil bertanya tentang
Ayahnya. Satu pertanyaan yang tak pernah ia pertanyakan kepada ibunya adalah
isi secarik kertas yang diberikan Ayahnya kepada Ibunya pada saat meninggalkan
mereka berdua. Ia takut jika pertanyaan itu membuat Ibunya sedih.
Pertanyaan-pertanyaan
yang ia simpan baik dalam lamunannya hanya ia tujukan kepada patung Maria yang
menjadi roh dalam rumah mereka. Bagi Gorie Kecil Maria mirip ibunya, hanya saja
bunda Maria tak pernah menikah seperti Ibunya. Gorie serta Ibunya sering kali
pada pagi buta sudah duduk berlutut pada patung Bunda Maria menyimpulkan
tangannya untuk doa-doa mereka. Hampir tiap pagi mereka melakukan peribadatan
bersama. Hanya saja Gorie-lah yang paling lama mengakhiri doanya. Entah doa apa
yang Ia panjatkan, namun satu hal yang pasti, pertanyaan-pertanyaan yang ia
simpan selama bertahun-tahun dalam kepalanya langsung ia utarakan dihadapan
Bunda Maria, berharap ada suara-suara gaib yang menjawab pertanyaannya. Namun
tak pernah ia dapati suara yang mustahil bagi pendengarannya.
"Bu
apakah Sang Perawan Suci Hidup dalam kesendirianya selama Ia hidup?".
Gorie kecil memecah senyap pagi selepas mereka berdoa.
"Gorieku
sayang, Maria adalah Ibu bagi seluruh Ibu dunia, Ia diperuntukkan untuk kita,
menurutmu apakah yang ia lakukan dengan kondisi seperti itu?"
"Tapi
apakah Maria memiliki kasih sayang yang besar untuk seluruh umat manusia".
Gorie tak banyak berpikir.
"Sayang..Karena
itulah kita harus "mengikutinya".." Ibu Gorie mendekati Gorie
dengan menatap mata biru Gorie..
Gorie
hanya tersenyum melihat Ibunya.
"Bu
Apakah Maria sama dengan Ibu, atau Ibulah yang mengikuti Maria" Lekas
Gorie mengajukan pertanyaan dibawah pelukan ibunya.
"Menurutmu..Gorieku
Sayang?...”
"Entahlah...”
Gorie
hanya terdiam tak mampu menjawab Ibunya, Otak kecilnya tak mampu ia pacu untuk
memikirkan pertanyaan Ibunya. Namun satu ruang di kepalanya tersimpan satu
pertanyaan besar dan abadi bagi Ibunya. Kenapa Ayahnya meninggalkan mereka
berdua dengan Sepucuk surat yang rahasia bagi dirinya?..[Bersambung]