Alegoria: Sang Biarawati [bag 2]
"
Gorie...Gorie adakah kau disana?...." Ternyata Ibunya.
"Gorie
mengapa kau tak menjawab pertanyaanku?"
Ibunya
menundukkan sedikit badannya sambil menatap kedepan seakan-akan ada beban berat
yang berada di atas pinggulnya. Kali ini ibu Gorie mengeraskan suaranya.
"Gorieku
sayang..." Gorie berbalik menjawab panggilan ibunya dengan senyum kecilnya
yang manis.
"Ada
apa Bu?" Kali ini gorie berdiri dari dudukannya, memperlihatkan tubuhnya
agar ibunya melihatnya. Gorie Sedikit melangkah untuk menjemput Ibunya.
"Gorie
sudahkah engkau sarapan sayang? Ibunya berusaha membuka percakapan. Memang Pagi
ini Gorie langsung meninggalkan sarapannya berkat perasaan aneh yang ia
rasakan.
"Tidak
Bu, aku tidak sarapan pagi ini" Tukas Gorie.
"Gorie
apakah kau tidak merasa aneh hari ini" Ibunya seakan tahu bahwa Gorie
sedang gulana.
"Tidak
Bu, Gorie Beruisaha menyembunyikan isi dadanya dengan senyum kecilnya,
gigi-giginya yang kecil bermunculan.
"Tapi
Ibu tak usah khawatir dengan perutku, sebentar lagi saya akan masuk kok",
lekas Gorie menambahkan.
"Kalau
begitu lekaslah engkau mandi, sebentar lagi kita akan mengunjungi Bibimu"
Ibunya
berusaha mengingatkan bahwa hari ini mereka akan mengunjungi Bibinya di
pinggiran desa. Gorie lupa bahwa hari ini adalah hari sabtu. Mereka memang
sering berkunjung kerumah kakak Ibunya pada hari sabtu, disana mereka biasanya
menghabiskan waktu untuk menikmati akhir pekan. Kunjungan rutin ini dilakukan Ibu Gorie semenjak mereka
ditinggalkan Suaminya beberapa tahun yang lalu.
Ibu
Gorie meninggalkan Gorie dan berjalan menuju rumahnya, ibunya langsung masuk
kedalam dapur membereskan sarapan Gorie yang sudah mulai dingin. Gorie
nampaknya enggan pergi kerumah Bibinya, bila kesana akan menghabiskan waktu
hampir setengah jam dengan menaiki kereta kuda yang melewati jalan yang
berbatu. Betul-betul perjalanan yang melelahkan. Gorie hanya ingin dibawah pohonnya
merasakan keramahan suara ranting dedaunan yang saling bergesekan berharap
sesak dadanya lekas hilang
***
Diatas
kereta Alegoria hanya menatap kosong melewati celah jendela berharap menemukan
sesuatu yang menarik untuk menghilangkan rasa gulananya yang mengisi dadanya
dari pagi. Jalan menuju rumah bibinya masih panjang namun Gorie ingin lekas
sampai dan beranjak naik keatas loteng rumah bibinya dan menyendiri disana.
Mereka melawati undakan batu yang berkerikil, disamping kanan kirinya hanya
terpampang rerumputan yang luas seperti gelaran karpet hijau yang tak memiliki
ujung. Diatasnya langit bertengger dengan lukisan gumpalan awan yang berwarna
putih susu. Sesekali kuda dihadapan mereka mengeluarkan napas berat seakan
mengetahui perasaan Gorie. Ibunya sibuk berbicara dengan Luigi. Luigi adalah
kusir yang sudah mengenal keluarga kecil Gorie berkat sering kalinya ia
mengantarkan mereka berdua di tiap akhir pekan. Gorie berusaha memalingkan
pendengarannya berusaha untuk tidak mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Bagi
Gorie, Luigi adalah orang yang tak pernah capek mengeluarkan cerita-ceritanya
yang itu-itu saja. Tak ada hal yang baru dari seorang pria setengah baya
seperti Luigi.
Mereka
baru saja berbelok. kali ini suasananya sedikit berbeda. Tak seperti jalan yang
mereka lewati sebelumnya. Jalan yang mereka lewati lebih mirip terowongan oleh
kedua ujung dedaunan rimbun dari pohon oak. Ek atau Oak merupakan pohon yang
terpenting, dan pohon yang hidup terlama diantara pohon-pohon lainnya. Pohon Ek
adalah pohon yang dianggap keramat oleh bangsa Eropa, bangsa Slavia dan Jerman
memuja pohon ek sebagai pengkeramatan atas Dewa Guntur. Gorie merasa tentram
jika meleawati pohon ini. Setelah meleawati barisan pohon oak, mereka akan
berbelok menuju arah hutan cemara di sebelah utara Itali. Dibawah kaki gunung
inilah Bibi Gorie tinggal. Daerah ini kebanyakan adalah penduduk campuran dari
etnis yang tinggal didaerah mediterania. Kebanyakan menghabiskan waktunya
dengan berkebun dan berternak, kebanyakan dari mereka memiliki daerah ternak
yang luas dan sudah menjadi tradisi dari penduduk ini untuk merayakan dengan
minum anggur untuk menyambut musim dingin. Beberapa menit kemudian mereka sudah
tiba pekarangan rumah Bibinya. Pekarangan rumah Bibi Gorie tidak begitu luas, disitu
ditamani tanaman hias jenis passion fruit. Tanaman ini
mudah tumbuh memiliki bunga yang kontinyu dan memiliki ragam bentuk dan
warnaKetika kereta kuda belum selesai berhenti, Gorie lansung saja melompat dan
berlari menuju pintu rumah Bibinya. Dengan heran bibi gorie yang sudah lama
menunggu dipekarangan rumahnya hanya mengerutkan dahinya. Baru kali ini Gorie
berkelakuan seperti itu pikirnya. Bibi Gorie melempar senyum pada Ibu Gorie
menjemput dengan pelukan setengah lingkaran dibahu Ibu Gorie.
"Kau
nampak kurus Alea.."
"Banyak
yang mesti aku lakukan akhir-akhir ini" Sambil menurunkan kopernya dari
kereta kuda yang sedikit berdebu akibat perjalanan jauh. "Oh ya..tolong
Aku Genie!! jangan berdiri saja disitu", kesal Joanna menambahkan.
"Oh
Alea.. engkaupun bertambah sensitif rupanya, Genie masih tersenyum dan langsung
mengambil koper dari tangan Alea. Luigi hanya tersenyum melihat dua wanita
dihadapannya yang sedang bertengkar kecil namun mesra sambil memeriksa
kuda-kudanya.
"Oh
Alea, mengapa Gorie terlihat aneh hari ini, tidak biasanya ia bersikap seperti
itu"
"Entahlah..Genie..kurasa
ia hanya melewati hari-harinya dengan seperti biasanya, namun aneh saja jika
seorang wanita sekecil dia sering menghabiskan waktu dibawah pohon hingga
petang.."
"Kurasa
kau harus lebih banyak meluangkan waktumu untuknya". Mereka berjalan
menuju pekarangan.
"Oh
ya Luigi..Kurasa kuda-kudamu perlu istirahat..Genie lupa memberi pesan pada
Luigi. Bukan Saja Gorie dan Alea yang akrab, tetapi terhadap.
"Oh
ya disana telah kupersiapkan keperluanmu,...seperti biasa Luigi". Luigi
hanya mengangguk tersenyum mendengar peringatan Genie. Luigi paham.
Seperti
biasa jika berkunjung kerumah Bibinya, Gorie langsung menuju kedalam dengan
melepaskan topi bundarnya dan melemparkannya begitu saja di sofa. Ia memang
anak yang cuek terhadap kerapiannya. Bahkan ia sering kali dimarahi oleh Ibunya
akibat ulahnya yang malas serta acuh tak acuh jika ia berpakaian. Gorie adalah
gadis yang tak pernah memerhatikan penampilannya. Tetapi ia tampak cantik jika
berpakaian dengan busana apa saja. Apalagi ia dianugerahi rambut panjang miliki
ibunya.
Wajahnya
memang terbingkai indah dengan rambutnya yang berjatuhan disekitaran pundaknya.
Gorie lekas melemparkan sepatunya begitu saja di tempat sepatu di samping sofa
milik Bibinya. Rambutnya yang panjang terurai jatuh pada saat ia berbungkuk
melepaskan sepatunya. Pada saat hendak naik melewati tangga terdengar suara
pintu terbuka.
"Sayang..tahukah
engkau jika Bibi sangat tidak senang jika sepatumu di lemparkan begitu
saja". Ibu Gorie mengingatkan setelah melihat sepatu Gorie tergeletak
begitu saja dilantai tak jauh dari tempat sepatu. Gorie hanya cemberut
mendengar ucapan Ibunya. Ia Turun dari anak tangga dan dengan cekatan mengambil
sepatunya dan menaikkannya di tempat sepatu. Kali ini rambut Gorie jatuh dengan
kibasan pelan, melewati bahunya yang kecil. Gorie berusaha menyeka rambutnya
yang panjang dan menyelipkan kedaun telinganya. Ditelinga ada bekas tindikan
lubang anting dan Gorie tak senang menggunakan anting-anting pemberian Ibunya,
baginya Anting-anting hanya untuk wanita yang sudah memiliki cukup umur untuk
mengenakannya, Dan Gorie tak yakin ia sudah cukup umur.
Gorie
turun dari kamar yang diperuntukkan untuknya, ia turun untuk menyantap makanan
siang. Memang Gorie sudah merasa lapar akibat perjalanan jauh apalagi ditambah
ia belum sarapan semenjak pagi tadi. Ia mendapati Ibu dan Bibinya sedang
menyiapkan makanan khas Bibinya. Makanan khas Bibinya siang ini adalah Lasagna. Lagsana adalah
pasta yang dipanggang di oven dan merupakan makanan tradisional Italia. Lasagna
sendiri secara harfiah adalah lasagne yang berisikan daging. Lasagna sendiri
dapat diisi dengan banyak isian lainnya seperti daging, sayur-sayuran, ayam,
makanan laut dan sebagainya sesuai selera. Kulit Lasagna dibuat dari adonan
tepung terigu yang setelah diberikan isian, lalu dipanggang sampai matang.
Berkat aroma pasta yang berterbangan disekitar dinding-dinding dapur membuat
nafsu makan Gorie akhirnya naik. Selain lagsana, Ibu Gorie juga membuat Panini,
sejenis roti yang didalammnya terdapat irisan daging kecil-kecil yang diiris tipis.
Dimeja makan sudah tersedia sup yang berisi kacang-kacangan dan daun seledri
yang menyulut penciuman. Gorie lekas duduk disebelah Bibinya dan mengampir
semangkuk sup yang masih hangat menyantapnya dengan pelan dan menelannya tanpa
harus banyak kunyah.
"Oh
Ya Gorie, ada sesuatu yang aku ingin berikan padamu" tungkas Bibi Genie
kepada keponakannya. Bagi Genie, Gorie sudah seperti anak sendiri karena
Bibinya memang tidak memiliki suami dan
tentunya tak memiliki anak semanis Gorie. Bibinya berjalan menuju ruang
tidurnya dan membuka lemari bajunya mengambil satu kotak berukuran sedang dan
membawanya ke meja makan. Gorie hanya asik menyantap lagsana yang sudah hampir
habis.
"Apa
lagi ini Genie..". Ibu Gorie mendekati kotak yang sudah ada diatas meja
makan.
Dengan
senyum Bibi Gorie meyakinkan. "Itu oleh-oleh untuk kemenakanku yang manis
ini" sambil mengusap-usap kepala Gorie yang tak terlalu besar dan kemabali
duduk disamping Gorie.
"Alea
biarkan gadisku saja yang membukanya"
"Kukira
aku ibunya.. Genie" Ibu Gorie berusaha bertahan.
"Lagipula
pasti Gorie juga akan memperlihatkan kepadaku" Tambah Alea.
"Sudahlah,
biarkan Gadis kecilku ini membukanya dengan sedikit senyum dibibirnya" .
sambil melihat Gorie bibi Genie menambahkan Lagsane kepiring Gorie.
"Kukira
Gorie tak menyukainya Alea".."Buktinya ia tidak memerhatikan
pemberianmu"...
"Bukankah
Ia masih menghabiskan makanannya Alea" Bibi Gorie merasakan kemenangan
kali ini.
"Baiklah.."
Ibu Gorie acuh memasukkan kue kering kedalam mulutnya menguyahnya sampai
sekecil pasir"
"Gorie..kukira
kau mestinya harus menghibur dirimu.." Kali ini Gorie yang menjadi arah
pembicaraan Ibunya.
Dari
semenjak tiba di rumah Bibinya Gorie hanya diam.
"Kurasa
aku akan naik keloteng Bu"..Gorie hanya menjawab seadanya.
"Ayolah
Sayang, semenjak pagi aku hanya melihatmu murung tak tentu begitu" Ibu
Gorie berusaha meyakinkan Gorie.
"Biarkanlah
ia istirahat Alea, kukira ia lelah dengan perjalanan kali ini" Tungkas
Genie berusaha membela Gorie.
"Kukira
aku lelah ibu. Kali ini Gorie lekas berbicara, berharap bukan ia yang menjadi
bahan pembicaraan ibunya kali ini, lagian ia malas berbicara.
Gorie
sudah menghabiskan makanannya dan hendak sesegera mungkin dari dua wanita
didepannya. Dari tadi dibenaknya hanya seruangan kecil di atas loteng yang
menjadi pelarian imajinya. Tempat diatas loteng rumah bibinya tidaklah sebesar
ruangan dapur tapi cukup untuk menghabiskan waktu bagi gadis seumuran Gorie. Ia
secepat mungkin menghabiskan jus yang dari tadi melelehkan bintik-bintik air disekitaran
ujung dinding gelas panjang setengah lansing di depannya. Sejenak kemudian ia
berdiri dan langsung berlari kecil menuju ruangan atas. Ibunya hanya acuh
melihatnya sedangkan Bibinya berusaha menghibur Alea dengan senyumnya.
"Kurasa
ia membutuhkan seorang Ayah..Alea". Ibu Gorie hanya terdiam berusaha tak
mendengarkan perkataan Bibi Genie.
***
Ruangan
itu sedikit berdebu. Terlihat debu-debu halus beterbangan akibat terpaan cahaya
matahari yang baru saja naik. pelan-pelan merangkak ketengah-tengah langit,
membentuk selingkaran cahaya yang kekuning-kuningan. Membentangkan tanggannya
pada punggung bumi yang sedikit melengkung. Jika dilihat dari kaca jendela
laksana dua garis yang membentang, mempertemukan dua ujung yang saling bertemu
membentuk segaris panjang yang eksotis. Gorie hanya terduduk menghadap kaca
jendela. Terlihat pantulan wajahnya yang kecil dengan rambut hitam kecoklatan
didepannya. Tetapi bukan itu yang dipandangi Gorie. Ia biarkan matanya
menangkap sesuatu dihadapnnya, berharap ada seseorang yang melambaikan
tanggannya dibawah sana kepadanya. Disamping kirinya terdapat tempat tidur
seukuran dirinya yang dibawahnya terdapat tumpukan yang tak ia ketahui.
disamping tempat tidur, ada meja kecil milik bibinya yang sengaja ditempatkan
untuk memberikan kesan bahwa ruangan ini bukanlah gudang. Gorie masih saja
merasa gulana, ia berusaha tak memerhatikan perasaannya tapi tetap saja
perasaannyalah yang menguasainya. Gorie berusaha untuk tak dipengaruhi oleh
perasaannya dengan berusaha mencari pekerjaan di ruangan itu untuk menghibur
hatinya. Ia mulai bangun dari tempatnya dan mengambil tasnya kemudian
menempatkan diatas tempat tidurnya. Ia ingin tidur saja, dalam benaknya serasa
hambar. Ia rebahkan kepalanya diatas tas kulitnya, rambutnya berhamburan begitu
saja menutupi hampir semua pinggiran tasnya. Tetapi tiba-tiba pandangannya
terpaku pada sekotak kecil dibelakang lemari pojok, saat ia membalikkan tubuh
kecilnya. Ia berusaha berpikir bahwa itu hanyalah kotak biasa, tetapi tidak.
Itu adalah sebuah buku. Matanya berusaha ia tajamkan. Rasa penasarannya
mendorongnya untuk berjalan mengambilnya. Sepertinya tak ada yang melihat benda
itu terjatuh disana. Ia membungkuk mengambilnya, diusapnya debu yang melekat
dengan disertai tiupan kecilnya. Lalu ia duduk diatas kursi. Sejenak ia menatap
sampul buku itu berusaha membacanya tetapi ia tak mampu megejanya akibat
tulisan yang sudah kabur. Dibukanya halaman pertama dari buku itu dengan
mengerutkan keningnya, matanya tertuju pada satu kalimat pendek; ia membacanya.
Tak lama kemudian tak sadar air matanya sudah membasahi pipi merahnya. Kali ini
bukan sinar matahari yang membuat segaris tarikan pada punggung bumi, melainkan
air mata Gorie kecil yang jatuh membentuk segaris kecil dipipinya. Gorie tahu
sekarang ia harus berbuat apa, Ia tak perlu berkeliling mencari apa yang harus
dicarinya. Sekarang Air Matanyalah yang landas di pipi Gorie. [Bersambung]