Alegoria: Sang Biarawati [bag 2]


Gorie memakai baju dengan bawahan yang cerah pagi ini. Tetapi suasana hatinya berkata lain. Bila sudah seperti ini maka ia  tak perlu berpikir panjang, Gorie tahu kemana ia harus melangkahkan kakinya. Pohon Ceril. Gorie tahu itu. Pohon ini tak terlalu besar namun bagi siapa saja yang duduk dibawahnya pasti akan merasakan keteduhannya. Gorie semakin cepat melangkahkan kakinya, sampai-sampai ujung jempolnya ia lipat dalam sepatunya, ia hampir saja terjatuh jika saja ia tak memerhatikan langkahnya. Ia berusaha mempercepat langkahnya, dalam benaknya seakan-akan pohon itu akan pergi meninggalkan dirinya. Semenit kemudian ia sudah berada dibawah pohon kesayangannya. Pohon ini dihati Gorie memiliki arti khusus. Baginya akan teduh jika berada dibawahnya. Gorie pun duduk seketika, tak berpikir bahwa gaunnya akan kotor akibat basahan embun yang terjatuh semalam. Entah mengapa di pagi hari Gorie sudah merasakan hal yang aneh walupun Gorie tak tahu apa arti dari rasa yang ia rasakan. Gorie hanya terduduk sambil melihat keatas menatap arak-arakan awan yang bergumpal, sangat lama ia disana hingga ia tak sadar sebuah suara daibelakangnya sayup-sayup mencarinya.

" Gorie...Gorie adakah kau disana?...." Ternyata Ibunya.

"Gorie mengapa kau tak menjawab pertanyaanku?"

Ibunya menundukkan sedikit badannya sambil menatap kedepan seakan-akan ada beban berat yang berada di atas pinggulnya. Kali ini ibu Gorie mengeraskan suaranya.

"Gorieku sayang..." Gorie berbalik menjawab panggilan ibunya dengan senyum kecilnya yang manis.

"Ada apa Bu?" Kali ini gorie berdiri dari dudukannya, memperlihatkan tubuhnya agar ibunya melihatnya. Gorie Sedikit melangkah untuk menjemput Ibunya.

"Gorie sudahkah engkau sarapan sayang? Ibunya berusaha membuka percakapan. Memang Pagi ini Gorie langsung meninggalkan sarapannya berkat perasaan aneh yang ia rasakan.

"Tidak Bu, aku tidak sarapan pagi ini" Tukas Gorie.

"Gorie apakah kau tidak merasa aneh hari ini" Ibunya seakan tahu bahwa Gorie sedang gulana.

"Tidak Bu, Gorie Beruisaha menyembunyikan isi dadanya dengan senyum kecilnya, gigi-giginya yang kecil bermunculan.

"Tapi Ibu tak usah khawatir dengan perutku, sebentar lagi saya akan masuk kok", lekas Gorie menambahkan.

"Kalau begitu lekaslah engkau mandi, sebentar lagi kita akan mengunjungi Bibimu"

Ibunya berusaha mengingatkan bahwa hari ini mereka akan mengunjungi Bibinya di pinggiran desa. Gorie lupa bahwa hari ini adalah hari sabtu. Mereka memang sering berkunjung kerumah kakak Ibunya pada hari sabtu, disana mereka biasanya menghabiskan waktu untuk menikmati akhir pekan. Kunjungan rutin  ini dilakukan Ibu Gorie semenjak mereka ditinggalkan Suaminya beberapa tahun yang lalu.

Ibu Gorie meninggalkan Gorie dan berjalan menuju rumahnya, ibunya langsung masuk kedalam dapur membereskan sarapan Gorie yang sudah mulai dingin. Gorie nampaknya enggan pergi kerumah Bibinya, bila kesana akan menghabiskan waktu hampir setengah jam dengan menaiki kereta kuda yang melewati jalan yang berbatu. Betul-betul perjalanan yang melelahkan. Gorie hanya ingin dibawah pohonnya merasakan keramahan suara ranting dedaunan yang saling bergesekan berharap sesak dadanya lekas hilang

***

Diatas kereta Alegoria hanya menatap kosong melewati celah jendela berharap menemukan sesuatu yang menarik untuk menghilangkan rasa gulananya yang mengisi dadanya dari pagi. Jalan menuju rumah bibinya masih panjang namun Gorie ingin lekas sampai dan beranjak naik keatas loteng rumah bibinya dan menyendiri disana. Mereka melawati undakan batu yang berkerikil, disamping kanan kirinya hanya terpampang rerumputan yang luas seperti gelaran karpet hijau yang tak memiliki ujung. Diatasnya langit bertengger dengan lukisan gumpalan awan yang berwarna putih susu. Sesekali kuda dihadapan mereka mengeluarkan napas berat seakan mengetahui perasaan Gorie. Ibunya sibuk berbicara dengan Luigi. Luigi adalah kusir yang sudah mengenal keluarga kecil Gorie berkat sering kalinya ia mengantarkan mereka berdua di tiap akhir pekan. Gorie berusaha memalingkan pendengarannya berusaha untuk tidak mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Bagi Gorie, Luigi adalah orang yang tak pernah capek mengeluarkan cerita-ceritanya yang itu-itu saja. Tak ada hal yang baru dari seorang pria setengah baya seperti Luigi.

Mereka baru saja berbelok. kali ini suasananya sedikit berbeda. Tak seperti jalan yang mereka lewati sebelumnya. Jalan yang mereka lewati lebih mirip terowongan oleh kedua ujung dedaunan rimbun dari pohon oak. Ek atau Oak merupakan pohon yang terpenting, dan pohon yang hidup terlama diantara pohon-pohon lainnya. Pohon Ek adalah pohon yang dianggap keramat oleh bangsa Eropa, bangsa Slavia dan Jerman memuja pohon ek sebagai pengkeramatan atas Dewa Guntur. Gorie merasa tentram jika meleawati pohon ini. Setelah meleawati barisan pohon oak, mereka akan berbelok menuju arah hutan cemara di sebelah utara Itali. Dibawah kaki gunung inilah Bibi Gorie tinggal. Daerah ini kebanyakan adalah penduduk campuran dari etnis yang tinggal didaerah mediterania. Kebanyakan menghabiskan waktunya dengan berkebun dan berternak, kebanyakan dari mereka memiliki daerah ternak yang luas dan sudah menjadi tradisi dari penduduk ini untuk merayakan dengan minum anggur untuk menyambut musim dingin. Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba pekarangan rumah Bibinya. Pekarangan rumah Bibi Gorie tidak begitu luas, disitu ditamani tanaman hias jenis passion fruit. Tanaman  ini  mudah tumbuh memiliki bunga yang kontinyu dan memiliki ragam bentuk dan warnaKetika kereta kuda belum selesai berhenti, Gorie lansung saja melompat dan berlari menuju pintu rumah Bibinya. Dengan heran bibi gorie yang sudah lama menunggu dipekarangan rumahnya hanya mengerutkan dahinya. Baru kali ini Gorie berkelakuan seperti itu pikirnya. Bibi Gorie melempar senyum pada Ibu Gorie menjemput dengan pelukan setengah lingkaran dibahu Ibu Gorie.

"Kau nampak kurus Alea.."

"Banyak yang mesti aku lakukan akhir-akhir ini" Sambil menurunkan kopernya dari kereta kuda yang sedikit berdebu akibat perjalanan jauh. "Oh ya..tolong Aku Genie!! jangan berdiri saja disitu", kesal Joanna menambahkan.

"Oh Alea.. engkaupun bertambah sensitif rupanya, Genie masih tersenyum dan langsung mengambil koper dari tangan Alea. Luigi hanya tersenyum melihat dua wanita dihadapannya yang sedang bertengkar kecil namun mesra sambil memeriksa kuda-kudanya.

"Oh Alea, mengapa Gorie terlihat aneh hari ini, tidak biasanya ia bersikap seperti itu"

"Entahlah..Genie..kurasa ia hanya melewati hari-harinya dengan seperti biasanya, namun aneh saja jika seorang wanita sekecil dia sering menghabiskan waktu dibawah pohon hingga petang.."

"Kurasa kau harus lebih banyak meluangkan waktumu untuknya". Mereka berjalan menuju pekarangan.


"Oh ya Luigi..Kurasa kuda-kudamu perlu istirahat..Genie lupa memberi pesan pada Luigi. Bukan Saja Gorie dan Alea yang akrab, tetapi terhadap.

"Oh ya disana telah kupersiapkan keperluanmu,...seperti biasa Luigi". Luigi hanya mengangguk tersenyum mendengar peringatan Genie. Luigi paham.

Seperti biasa jika berkunjung kerumah Bibinya, Gorie langsung menuju kedalam dengan melepaskan topi bundarnya dan melemparkannya begitu saja di sofa. Ia memang anak yang cuek terhadap kerapiannya. Bahkan ia sering kali dimarahi oleh Ibunya akibat ulahnya yang malas serta acuh tak acuh jika ia berpakaian. Gorie adalah gadis yang tak pernah memerhatikan penampilannya. Tetapi ia tampak cantik jika berpakaian dengan busana apa saja. Apalagi ia dianugerahi rambut panjang miliki ibunya.

Wajahnya memang terbingkai indah dengan rambutnya yang berjatuhan disekitaran pundaknya. Gorie lekas melemparkan sepatunya begitu saja di tempat sepatu di samping sofa milik Bibinya. Rambutnya yang panjang terurai jatuh pada saat ia berbungkuk melepaskan sepatunya. Pada saat hendak naik melewati tangga terdengar suara pintu terbuka.

"Sayang..tahukah engkau jika Bibi sangat tidak senang jika sepatumu di lemparkan begitu saja". Ibu Gorie mengingatkan setelah melihat sepatu Gorie tergeletak begitu saja dilantai tak jauh dari tempat sepatu. Gorie hanya cemberut mendengar ucapan Ibunya. Ia Turun dari anak tangga dan dengan cekatan mengambil sepatunya dan menaikkannya di tempat sepatu. Kali ini rambut Gorie jatuh dengan kibasan pelan, melewati bahunya yang kecil. Gorie berusaha menyeka rambutnya yang panjang dan menyelipkan kedaun telinganya. Ditelinga ada bekas tindikan lubang anting dan Gorie tak senang menggunakan anting-anting pemberian Ibunya, baginya Anting-anting hanya untuk wanita yang sudah memiliki cukup umur untuk mengenakannya, Dan Gorie tak yakin ia sudah cukup umur.

Gorie turun dari kamar yang diperuntukkan untuknya, ia turun untuk menyantap makanan siang. Memang Gorie sudah merasa lapar akibat perjalanan jauh apalagi ditambah ia belum sarapan semenjak pagi tadi. Ia mendapati Ibu dan Bibinya sedang menyiapkan makanan khas Bibinya. Makanan khas Bibinya  siang ini adalah Lasagna. Lagsana adalah pasta yang dipanggang di oven dan merupakan makanan tradisional Italia. Lasagna sendiri secara harfiah adalah lasagne yang berisikan daging. Lasagna sendiri dapat diisi dengan banyak isian lainnya seperti daging, sayur-sayuran, ayam, makanan laut dan sebagainya sesuai selera. Kulit Lasagna dibuat dari adonan tepung terigu yang setelah diberikan isian, lalu dipanggang sampai matang. Berkat aroma pasta yang berterbangan disekitar dinding-dinding dapur membuat nafsu makan Gorie akhirnya naik. Selain lagsana, Ibu Gorie juga membuat Panini, sejenis roti yang didalammnya terdapat irisan daging kecil-kecil yang diiris tipis. Dimeja makan sudah tersedia sup yang berisi kacang-kacangan dan daun seledri yang menyulut penciuman. Gorie lekas duduk disebelah Bibinya dan mengampir semangkuk sup yang masih hangat menyantapnya dengan pelan dan menelannya tanpa harus banyak kunyah.

"Oh Ya Gorie, ada sesuatu yang aku ingin berikan padamu" tungkas Bibi Genie kepada keponakannya. Bagi Genie, Gorie sudah seperti anak sendiri karena Bibinya memang tidak memiliki suami  dan tentunya tak memiliki anak semanis Gorie. Bibinya berjalan menuju ruang tidurnya dan membuka lemari bajunya mengambil satu kotak berukuran sedang dan membawanya ke meja makan. Gorie hanya asik menyantap lagsana yang sudah hampir habis.

"Apa lagi ini Genie..". Ibu Gorie mendekati kotak yang sudah ada diatas meja makan.

Dengan senyum Bibi Gorie meyakinkan. "Itu oleh-oleh untuk kemenakanku yang manis ini" sambil mengusap-usap kepala Gorie yang tak terlalu besar dan kemabali duduk disamping Gorie.

"Alea biarkan gadisku saja yang membukanya"

"Kukira aku ibunya.. Genie" Ibu Gorie berusaha bertahan.

"Lagipula pasti Gorie juga akan memperlihatkan kepadaku" Tambah Alea.

"Sudahlah, biarkan Gadis kecilku ini membukanya dengan sedikit senyum dibibirnya" . sambil melihat Gorie bibi Genie menambahkan Lagsane kepiring Gorie.

"Kukira Gorie tak menyukainya Alea".."Buktinya ia tidak memerhatikan pemberianmu"...

"Bukankah Ia masih menghabiskan makanannya Alea" Bibi Gorie merasakan kemenangan kali ini.

"Baiklah.." Ibu Gorie acuh memasukkan kue kering kedalam mulutnya menguyahnya sampai sekecil pasir"

"Gorie..kukira kau mestinya harus menghibur dirimu.." Kali ini Gorie yang menjadi arah pembicaraan Ibunya.

Dari semenjak tiba di rumah Bibinya Gorie hanya diam.

"Kurasa aku akan naik keloteng Bu"..Gorie hanya menjawab seadanya.

"Ayolah Sayang, semenjak pagi aku hanya melihatmu murung tak tentu begitu" Ibu Gorie berusaha meyakinkan Gorie.

"Biarkanlah ia istirahat Alea, kukira ia lelah dengan perjalanan kali ini" Tungkas Genie berusaha membela Gorie.

"Kukira aku lelah ibu. Kali ini Gorie lekas berbicara, berharap bukan ia yang menjadi bahan pembicaraan ibunya kali ini, lagian ia malas berbicara.

Gorie sudah menghabiskan makanannya dan hendak sesegera mungkin dari dua wanita didepannya. Dari tadi dibenaknya hanya seruangan kecil di atas loteng yang menjadi pelarian imajinya. Tempat diatas loteng rumah bibinya tidaklah sebesar ruangan dapur tapi cukup untuk menghabiskan waktu bagi gadis seumuran Gorie. Ia secepat mungkin menghabiskan jus yang dari tadi melelehkan bintik-bintik air disekitaran ujung dinding gelas panjang setengah lansing di depannya. Sejenak kemudian ia berdiri dan langsung berlari kecil menuju ruangan atas. Ibunya hanya acuh melihatnya sedangkan Bibinya berusaha menghibur Alea dengan senyumnya.

"Kurasa ia membutuhkan seorang Ayah..Alea". Ibu Gorie hanya terdiam berusaha tak mendengarkan perkataan Bibi Genie.

***

Ruangan itu sedikit berdebu. Terlihat debu-debu halus beterbangan akibat terpaan cahaya matahari yang baru saja naik. pelan-pelan merangkak ketengah-tengah langit, membentuk selingkaran cahaya yang kekuning-kuningan. Membentangkan tanggannya pada punggung bumi yang sedikit melengkung. Jika dilihat dari kaca jendela laksana dua garis yang membentang, mempertemukan dua ujung yang saling bertemu membentuk segaris panjang yang eksotis. Gorie hanya terduduk menghadap kaca jendela. Terlihat pantulan wajahnya yang kecil dengan rambut hitam kecoklatan didepannya. Tetapi bukan itu yang dipandangi Gorie. Ia biarkan matanya menangkap sesuatu dihadapnnya, berharap ada seseorang yang melambaikan tanggannya dibawah sana kepadanya. Disamping kirinya terdapat tempat tidur seukuran dirinya yang dibawahnya terdapat tumpukan yang tak ia ketahui. disamping tempat tidur, ada meja kecil milik bibinya yang sengaja ditempatkan untuk memberikan kesan bahwa ruangan ini bukanlah gudang. Gorie masih saja merasa gulana, ia berusaha tak memerhatikan perasaannya tapi tetap saja perasaannyalah yang menguasainya. Gorie berusaha untuk tak dipengaruhi oleh perasaannya dengan berusaha mencari pekerjaan di ruangan itu untuk menghibur hatinya. Ia mulai bangun dari tempatnya dan mengambil tasnya kemudian menempatkan diatas tempat tidurnya. Ia ingin tidur saja, dalam benaknya serasa hambar. Ia rebahkan kepalanya diatas tas kulitnya, rambutnya berhamburan begitu saja menutupi hampir semua pinggiran tasnya. Tetapi tiba-tiba pandangannya terpaku pada sekotak kecil dibelakang lemari pojok, saat ia membalikkan tubuh kecilnya. Ia berusaha berpikir bahwa itu hanyalah kotak biasa, tetapi tidak. Itu adalah sebuah buku. Matanya berusaha ia tajamkan. Rasa penasarannya mendorongnya untuk berjalan mengambilnya. Sepertinya tak ada yang melihat benda itu terjatuh disana. Ia membungkuk mengambilnya, diusapnya debu yang melekat dengan disertai tiupan kecilnya. Lalu ia duduk diatas kursi. Sejenak ia menatap sampul buku itu berusaha membacanya tetapi ia tak mampu megejanya akibat tulisan yang sudah kabur. Dibukanya halaman pertama dari buku itu dengan mengerutkan keningnya, matanya tertuju pada satu kalimat pendek; ia membacanya. Tak lama kemudian tak sadar air matanya sudah membasahi pipi merahnya. Kali ini bukan sinar matahari yang membuat segaris tarikan pada punggung bumi, melainkan air mata Gorie kecil yang jatuh membentuk segaris kecil dipipinya. Gorie tahu sekarang ia harus berbuat apa, Ia tak perlu berkeliling mencari apa yang harus dicarinya. Sekarang Air Matanyalah yang landas di pipi Gorie. [Bersambung]