Madah



'Tepat pukul dua belas kita berangkat. Tak ada yang mesti ditunggu. Menunggu bisa jadi aib tindakan kita'

Pikiran Abah mengkerucut. Pada satu sentra dalam tempurung kepalanya; operasi kali ini harus berhasil. Jika lewat sepersekian detik mampuslah hidup kita. Tiada yang jelas sudah kemana arah selanjutnya. Hidup akan menjadi kabut di siang bolong.

Ia membalikkan badannya dan menatap sebilah papan hitam; papan yang disandarkan begitu rupa pada dindingdinding yang bolong sudah. Dipermukaannya malang melintang garisgaris tak jelas, menghubungkan beberapa titik yang tercerai berai. Namun jelas, garisgaris itu punya maksud. Seperti membentuk jejaring laba. Pada titik yang tebal, mata Abah tertuju. Ia menarik napas dalam. Dititik itu, dia dan kelompoknya akan melancarkan aksinya; meledakkan jalur rel kereta api.

Sementara dibelakangnya, kelompok yang beranggotakan sembilan orang itu masih berdiri tegak. Sorot mata tajam. Seperti komandan mereka, ada iman yang dipadu satu. Dada mereka naik turun.

***

Hari ini adalah hari rabu. Di luar sana hujan baru saja berhenti. Menyisakan endapan air yang tinggal. Sementara gelap menjadi petanda, bahwa malam ini berbeda dari sebelumnya. Bulan menjadi langka dimalam ini.

Abah berjalan melewati perkampungan. Belum jauh dibelakangnya ada surau, menyerupai mushollah. Tujuh tiang menahan atapnya. Sedikit lapuk. Abah baru saja meninggalkan surau itu. Sebelumnya ia memimpin jamaahnya untuk salat isya. Ia seorang imam kampung.

'Assalamualaikum Abah.' Terdengar sayup suara. Seorang perempuan.

'Alaikumsalam' Abah membalikkan badannya mencari punya suara. Ia menundukan kepalanya, tangan kanannya didedapkan diatas dadanya. Ternyata Ibu Madah.

'Bagaimana si Madah? Sehat?' Abah membuka pembicaraan. Berusaha santun.
'Alhamdulillah Abah, sekarang ia lagi dibelakang. Biasa Bah bantu adiknya.'
'Ya sudah, biarkan saja. Tapi ingatkan dia, sehabis itu, segera susul saya dirumah.' Abah memerintah.

'Baik Abah' ibu Madah menundukan kepalanya. Abah pamitan. Ada kharisma yang ia pancarkan dari caranya membalikkan badannya.

***

Tanah masih saja basah. Dedaunan meranggas. Malam kian gelap. Madah berjalan membelah perkampungan. Angin terpecah. Hanya satu tujuannya; rumah Abah.

'Bagaimana Madah, emakmu sudah tidur?' Abah mengepulkan tembakaunya. Sela jemari telunjuknya gosong. Terlalu sering lesong dihisapnya.

'Sudah Abah' Madah hanya berdiri saja. Bukan adabnya jika harus duduk berhadapan dengan Abah. Menurutnya duduk berarti sederajat. Sederajat berarti mencuri kharisma Abah. Selebihnya ia hormat.


'Engkau masih muda Madah' Abah berdiri menuju jendela. Ia menatap keluar. Gelap.
'Kau tahu jika operasi besok tak berbuah hasil? Emakmu akan dibawa. Emakmu taruhannya. Kau tahu maksudku nak?'

Madah terdiam. Menelan ludahnya. 'Tahu abah', Masih tertunduk. Pikirannya satu; Ibunya. Kemudian tegar, untuk Ayah. Demi nasib esok. Ia yakin.

'Ya sudah, lekaslah kau istirahatkan badanjiwamu. Malam ini kau nginap disini. Emakmu tak perlu khawatir, ia tahu dimana engkau malam ini.

Abah masih berdiri di balik jendela. Pandangannya jauh ke depan menembus tirai malam. Lama ia seperti itu. Kemudian; napas berat keluar dari hidungnya. Matanya berair.

***

Jam sudah pukul sebelas lewat empatsembilan. Sesuai rencana mereka akan bergegas tepat pukul duabelas nanti. Mereka akan melewati hutan yang berkalang kabut. Tiada pencahayaan sama sekali. Aksi ini menghindari apapun yang bisa mendatangkan resiko, termasuk bertemu babi hutan sekalipun. Suara sekecilpun bisa berbahaya.

Madah bagian dari kelompok ini. Ia anggota yang paling muda, sembilanbelas usianya.
Madah ikut serta karena satu alasan; balas dendam. Ayahnya meregang nyawa ketika mempertahankan ladang tebu miliknya ketika sita paksa dilakukan. Peluru bersarang tepat didadanya. Namun bagi Abah, kenapa ia mau menerima Madah, oleh sebab ia masih muda. Jika operasi kali ini berhasil, Madah akan menjadi angin besar. Masih muda berani bermain dadu dengan napasnya. Bukan saja itu, pikiran Madah sudah bisa ditebak, mirip Ayahnya; tidak mudah tunduk.

Madah membawa tas dibelakangnya. Tercium bau mesiu dari tas goninya. Bukan saja ia yang seperti itu, tiga lainnya pun demikian. Tas karung besar, mesiu didalamnya, berbentuk kotakkotak padat berisi. Tak salah lagi, itulah bahan peledaknya.

Sesekali mereka harus berhenti, sebab sekitaran gelap betul. Namun walaupun begitu, diatas sana cahaya bulan menembusi cela dedauanan.

'Madah petanya', Abah memerintah. Matanya sorot. Gambar tak beraturan di depannya. Sedetik kemudian mereka melanjutkan perjalanan.

Madah dan yang lainnya mengikuti.

Kemudian tibatiba terdengar bunyi letupan. Suasana serempak terburai. Letupan kembali terdengar. Kali ini bertubitubi memecah kesunyian. Terdengar Abah memberikan komando. Madah berlari mencari tempat perlindungan. Tangannya memegang bedil.

Letupanletupan silih berganti. Entah dari mana tibatiba suara letupan itu datang memecah keheningan.

Kelompok itu terpecah entah kemana. Namun yang pasti ada badan yang tersungkur.
Suasana seketika menjadi hening. Terdengar bunyi erangan. Malam kini tak seperti yang terbayangkan.

'Madah,,,Mmadah..' Erangan itu memanggil. Badannya terkoyak pelor panas. Darah memenuhi dadanya. Abah sekarat. Barang seketika tak jauh dari tempat itu terdengar bebunyian. Madah.

Bedilnya masih bersih. Mulus tanpa bercak darah. Wajahnya dingin.

'Abah,,, ia mendekati. Badannya kuyub.

'Mmadaah,,, Abah menguatkan suaranya.

‘Madah,,,mmdah,, dengarkan ini baikbaik, aku hanya mengucapkannya sekali. Suara Abah berat. Matanya menatap Madah. Tajam mencengkeram Madah bulatbulat.

‘,,, dalam kelompok ini ada pengkhianat. Madah menajamkan pendengarannya. Dunia menyempit; focus.

‘,,,kau harus mengejarnya, sebelum ia mendahuluimu. Jika tidak,,, ‘ Abah terbatuk,,, Aksi ini gagal, namun,,,’

Madah hanya terdiam . masih berusaha fokus. Bedil dipegangnya eraterat. Untuk berjagajaga. Bagaimanapun situasi belum sepenuhnya aman.

‘,,,emakmu Madah,, emakmu,,,’ suara Abah parau. Kali ini suara Abah beregerigi.

‘,,kembalilah ke kampong. Susul Makmu,,, Tinggalkan aksi ini. Aksi ini tak berbuah hasil,, semuanya sudah selesai,,,’

Abah berusaha untuk berbicara seperti saatsaat memimpin rapat. Tetapi dadanyabolong sudah. Peluru bersarang disana. Darah tak berhenti mengalir.

Madah menajamkan matanya. Pikirannya kalut. Tetapi ia belum habis. Tetapi Abah berkehendak lain. Madah harus kembali, menyusul emaknya.

‘,,,Madah,, Madah,,,’

Nampaknya Abah punya firasat. Ia bakal tanggal. Ia melanjutkan ;
‘,,,bangsa ini sedang tumbuh Madah, bangsa ini,,, bangsa ini sedang menunggu untuk disemai. Di atas kereta itu ada orangorang dengan kekuasaan yang besar. Mereka berasal dari tanah yang asing. Mereka hama tanah ini,, Madah. Kedatangan mereka adalah tabu bagi kita. Mereka harus dilenyapkan,,’ Abah terbatuk. Batuknya berbau darah. Kering.

‘,,,namun, emakmu Madah, emakmu,, selamatkanlah ia,,apalah arti tanah besar tanpa seorang ibu,,, susullah ia,,’ wajah Abah pasi, pucat penuh. Abah terbatuk lagi. Bibirnya terkatupkatup. Sedetik kemudian; Ia meregang nyawa.

Tubuh Madah berat. Jantungnya berair. Abah telah mati. Dipangkuannya pula.
Malam semakin hening. Bulan tibatiba hilang. Angin mendesir. Lamatlamat terdengar suara kereta dari jauh. Hanya barang beberapa kaki jarak ia dengan asal suara itu. Tak jauh didepan asal suara, bangunan itu, melayang membelah sungai dibawahnya; jembatan itu, target mereka. Ternyata. Hanya beberapa kaki dari tempat Madah.

Madah berdiri. Ia belum habis. Matanya, matanya tajam. Dibawahnya mayat segar Abah masih hangat. Darahnya basah. Madah membatin, keningnya mengekerucut; antara meledakkan rel kereta api ataukah Ibunya. Bedil dipinggangkan, Mahdah mantap, kemudian ia berlari?

Malam masih saja sama, tiada berbintang. Bulan lenyap. Madah berlari membelah Malam.

Pare, Jelang Petang 110313