Madah; Negara dan Kematian Ayahanda
Hari
begitu terang sangat. Matahari tepat di atas ubunubun kepala. Menggelantung
tiada tiang, menampil bulat purna. Terik. Diatas sana mega masih lamatlamat
bertutup biru muda. Sementara tepat di bawahnya, pada desa yang kering betul,
sebuah tempat menjadi rahasia; rumah Madah.
‘Itu
tergantung situasinya’ pria dengan umur baya bersuara. Suaranya merongga.
Sedikit berat. 54 sudah usianya.
Ia
mengangkat gelas kopinya; pekat. Terdengar bunyi dari tatakannya. Kemudian
diminumnya. Mulutnya kembali mengeluarkan suara;
‘Apabila
dua sampai tiga tahun, ini gerakan tak kunjung menyembul sampai pusat, maka
kita mesti mengambil tindakan.. namun untuk masa sekarang, bersabarlah dulu engkau… bagaimanapun situasi harus
dipertimbangkan’. Suaranya kali ini melesat jebol. Terkesan ada komando.
Siang
ini, pada terik yang menggelantung matahari, pria baya ini tak sendirian.
Seorang pria dengan umur yang tak jauh beda duduk dihadapannya. Dia berpeci.
Tak salah lagi; Abah.
Abah
hanya mendengarkan dengan cekat. Tekun telinganya dipasang. Alam pikirnya
bekejaran dengan suara yang ditangkapnya. Bagaimanapun suara itu, suara yang ia
hormati. Suara itu suara Ayah Madah.
Dahulu,
di masamasa perjuangan, Ayah Madah adalah Komandannya. Namun sekarang zaman telah beralih. Pendulum
sejarah telah berubah. Di rumah ini pun demikian; perbincangan mereka tak
menampilkan situasi yang hirarkis. Lebih dekat sebagai bekas veteran perang.
‘Perlu
kau ketahui’ Ayah Madah melanjutkan. ‘menurutku saatsaat ini ada hal yang
penting untuk ditindaki, mengingat ini memiliki dampak yang tak spontan’
Abah
mengayunkan badannya kedepan. Ia fokus. Perhatiannya ia kumpul betul. Ia hanya
diam menyimak.
‘Dengarkan
ini baik-baik. Bukan berarti saya ini tak menghiraukan usulanmu beberapa waktu
yang lalu. Melainkan apa yang saya ingin sampaikan kali ini bukanlah hal yang
remeh. Bukan yang menampil kongkrit, melainkan jauh dari itu.’
Abah
memulai lisongnya. Tangannya terayun. Beberapa saat mulututnya berkepul asap.
Kali ini ia angkat bicara
‘Apakah
ini menjadi dalih sehingga engkau memanggilku kemari?’
‘Bisa
dibilang demikian’…namun ini belum sampai kepada sektor yang lain, ini hanya
masih anasir pribadiku..saya memiliki perencanaan yang hendak kusampaikan kepadamu’
Abah
mulai tertarik. Dihisapnya kembali tembakaunya. Asapnya tebal, memudar
seketika.
‘Yang
kumaksudkan kali ini masih dalam rangka apa yang kuusulkan pada pertemuan
sektoral kemarin’ Ayah Abah serius. Matanya tajam menelan bulat Abah. Ia
kembali berujar;
‘Ini
berbeda dari model perlawanan kita selama ini. Aksi frontal memang perlu, namun
skalanya tidak memiliki efek panjang.
‘Selama
ini bukankah demikian? Perlawananan kita selalu berangkat dari aksiaksi yang
spontan dan tak terkira.. dan kupikir dari karena itulah pusat mengambil sikap?
‘Saya
tahu itu.. tetapi ini membutuhkan kerja yang kolektiv,, gotong royong..dan
lagian pusat sudah tak mengiraukan gerakan kita akhirakhir ini’
‘Baiklah
saya mendengarkan’ Abah menjejalkan lisongnya. Kemudian berkepul asap.
Konsentrasi.
‘Negara
ini engkau tahu? Ayah Madah memulai.
‘Negara
ini banyak memiliki detil sejarah yang sengaja disembunyikan. Awalnya Negara
ini memiliki ide besar tentang kemerdekaan. Ayah Madah merunut;
‘Namun
belakangan dapatkah engkau melihat? Akhirakhir ini keadaan membuat pusat banyak
berubah..’
‘Kukira
kita samasama tahu itu? Abah berkepul asap.
‘Negara
ini terlalu banyak memakan korban dengan kesepakatankesepakatan internalnya..’
‘Maksudmu?’
‘Negara
yang dikerumuni kepentingan hanya menimbulkan tarikan yang membuat tanah ini
sulit dikendalikan. Akhirnya Negara ini hanya menjadi simpul yang melayani kepentingan lingkaran
kecil’. Ayah Madah merunut ulasannya. Sementara Abah masih merabaraba.
Keningnya bergaris.
‘Engkau
tahu apa hulu masalahnya?’ Tanpa menunggu jawaban datang, Ayah Madah
melanjutkan runut pikirnya.
‘Ini
karena soal kedewasaan. Lingkaran pusat hanya dipenuhi orangorang dengan mental
inlander. Masih kanakkanak. Silau dengan diplomasidiplomasi.
Sementara
mereka tak paham, hanya bermain di atas meja. Negara ini bukan segaris gambar
yang dibincang di atas meja, tetapi menyangkut hajat banyak. Menyangkut
kedirian orang banyak.’
‘Apa
yang engkau maksudkan? Saya pikir itu jalan yang terbaik untuk negara ini,
bukankah seperti itulah politik?!’ Abah menyendera dengan pertanyaan. Kali ini
Abah angkat suara.
‘Ha..ha..ha..mestinya
engkau mengerti’ Ayah Madah sumringah. Giginya kuning gading. Dia melanjutkan.
‘Masihkah
engkau terkecoh dengan diplomasi-diplomasi politik itu?.. Diplomasi memang
diperlukan, namun jangan sampai terlalu dalam. Sederhananya diplomasi dibutuhkan
jika kita belum kuat, jika kita belum mampu berdiri sendiri. Namun sekarang
situasinya berubah, ini bukan jaman inlander dulu. Sekarang situasinya berbeda.
Negara sekarang tak membutuhkan itu.’
‘Menurutku
memang demikan yang harus dilakukan’… Abah menimpali ‘lagian bukankah dulu
diplomasi juga adalah salah satu cara
untuk kita tampil di permukaan?’ Abah berusaha mengimbangi.
‘Sudah
saya katakan itu dulu. Walaupun kita sendiri pahami, kemerdekaan yang diraih
bukan semata ditentukan oleh diplomasi belaka. Ada berjuta orang dibawahnya.
Itu yang penting. Lagi pula diplomasi yang dijalankan merupakan diplomasi
dengan bangsabangsa internasional, bukan kedalam.’ Ia kembali sumringah.
‘Begitulah
barangkali..pikiran orang militer tentu berbeda dengan tukang diplomasi’.
‘Itu
dia masalahnya, dua kuncup pikiran itu sekarang telah meradang di pusat..itu
dia berbahayanya.. jika militer menjadi raja yang memainkan gerak
politisnya’.
‘Lantas
apa yang engkau kehendaki dari perbincangan ini?’ Abah masih saja tenggelam
dengan alam pikirnya.
‘Musuh
kita sekarang bukan lagi para komparador pirang,, kuharap engkaupun paham itu,,
mereka lahir dinegeri ini.. tumbuh dan dewasa dengan inti sari tanah ini,
mereka saudarasaudara kita”.
‘Maksudmu
adalah orangorang yang mengurusi Negara ini’.
Ayah
madah hanya tersenyum.
‘Sudah
saya katakan tadi.. ini hanya masalah kedewasaan.. politik gaya sekarang telah
dijadikan persilangan untung rugi. Militer sekarang sudah beraviliasi dengan
politik busuk itu. Mereka sudah kehilangan medan laganya.. dan Malangnya yang
mengayunkan Negara ini hendak kemana adalah orangorang yang silau dengan
kekuasan. Seperti masa kanakkanak. Alam politik kita seperti taman bermain.
Belum beranjak dewasa”.
Abah
hanya menyimak. Perbincangan ini mau tak mau harus ia temukan ujungnya.
Beberapa saat kemudian Ayah Madah melanjutkan.
‘Camkan
ini baikbaik, Negara tanpa politik sama halnya omong kosong. Tetapi politik
tanpa Negara itu sama saja menjual tanah pertiwi ini. Orangorang dipusat
semuanya sudah tak bernegara. Mereka hanya mementingkan kelompok dari diplomasi
yang mereka lakukan. Mereka sudah salah mengambil sikap. Maka pertimbangkanlah
kembali usulanku beberapa waktu yang lalu. Yang kita lakukan seperti merawat
tumbuhan. Perlu penyemaian dimanamana’ Ayah Madah mengangkat gelas kopinya.
Jakunnya naik turun. Kemudian berujar; ‘kuharap engkau paham’
Abah
masih belum paham betul. Lingkaran dalam alam idenya belum penuh seluruh. Ia
masih saja merabaraba. Tetapi dari pembicaraan ini dia tahu maksud bekas
komandannya. Itu berarti ia harus bergegas secepat mungkin. Membangun kontak
dengan beberapa rekanrekannya. Ada secercah paham yang ia tangkap. Ide itu, ide
besar dari orang yang duduk dihadapannya. Ayah Madah.
***
Ayah
Madah tergeletak bersimbah darah. Pelor panas bersarang dalam tubuhnya,
membentuk lingkaran utuh. Darahnya
mengalir kucur. Madah hanya berdiri diam. Mulutnya bagai katup, tertutup rapat.
Sedang ibunya sedusedan. Matanya berair. Apa lacur, karena sepetak tanah nyawa empunya sedang ngosngosan. Berat.
Ini
bukan perkara remeh. Ini masalah tanah. Masalah penghidupan yang berkelayakan.
Tanah yang selama ini menghidupi keluarga Madah telah raib berpindah tangan.
Negara dengan dalih rumusrumus aturan telah menampil menjadi hakim yang lacur
sebelah. Tak hirau dengan sesiapa berurusan. Jika tak memiliki kejelasan hukum,
maka tunggulah papan bercat hitam berdiri pampang; Milik Negara.
Dahulu
pada zaman yang tua, zaman dimana Ayah madah masih memegang laras, Negara
begitu dipujanya. Negara adalah pertiwi yang harus ditanam dialam bawah
sadarnya. Menjadi tanah yang siap dibelanya kapanpun. Namun sekarang, zaman
terkadang berkata lain. Sekarang Negara yang dulu dibelanya telah berbalik
menggerogoti penghidupannya.
Dan
kali ini ladang tebu keluarga Madah mendapat gilirannya. Tanah dengan tebutebu
yang kuncup sudah menjadi taruhannya. Tetapi pada alam pikir ayah Madah, bukan
soal sesiapa yang mendapatkan kejelasan hukum. Melainkan soal sesiapa yang
berhak. Lebih jauh lagi ini soal keadilan. Namun kali ini beda. Hukum Negara
adalah hukum dagang sapi. Sesiapa punya sapi maka dialah pengembalanya. Dan
baru saja terjadi tarik ulur yang riuh, Ayah Madah protes. Ayah Madah membela.
Terjadi kekisruhan. Masyarakat tegang. Bunyibunyian peluru meletus. Berlarian
dan tibatiba Ayah Madah tergeletak.
Namun.
Tunggu dulu, Ia belum mati. Napasnya bekejaran. Terjadi Dialog.
‘Masihkah
engkau ingat perbincangan kita beberapa hari yang lalu?’ Ayah madah merongga,
dadanya sesak. Ia berbicara dengan orang yang memangkunya; Abah.
Abah
miris, masih saja ia menyinggung perbincangannya yang lalu, benaknya bersuara.
Sudah tahu napas tinggal sejengkal. Namun apa daya ini situasi yang ritmik
‘Siap..Saya Mendengarkan’ ia pun menjawab.
‘Ide
itu belum lengkap..’ Ayah Madah terbatuk.. ‘bincangkanlah kembali dengan
rekanrekan dari daerah… bagaimanapun mereka pun berhak tahu’ Ia terbatuk berat.
Kerongkongannya memuntahkan darah. Abah
berusaha tenang. Walau bagaimanapun matanya sudah mulai berembun.
‘Apa
yang kumaksudkan dari pembicaraan itu hanyalah sekedar usul untuk dibincangkan’
Ayah Madah berjuang dengan napasnya. Tersenggalsenggal. Lalu berat suaranya
kembali merongga. ‘tetapi engkau dan lainnya harus tahu,,, kita tidak lagi
sedang memangkas hutan, melainkan,,, melainkan sedang menanam bibit’. Tibatiba
Abah kemudian paham apa yang dimaksudkan dari perbincangan mereka beberapa hari
yang lalu. Tapi kenapa baru sekarang ia memahaminya.
‘Mmadah..Mmadah..’
Abah cekatan nama Madah disebut. ‘…ia kutitipkan kepadamu’ ia terbatuk
lagi..batuknya kering. ‘…inngg..a..t, ia pun kelak harus.. tttahhu’ napasnya
mulai berat. Sesak dadanya. Lubang peluru menganga bulat. Darah semakin kucur.
Barang beberapa detik Ayah Madah meregang nyawa. Abah hanya terdiam. Matanya
merah. Berair.
Sore
itu dimana siluet senja menampil garisgaris oranye. Hati Madah mencelos.
Badannya kaku. Ia tak menangis. Ia tahu Ayahnya telah tiada. Maka tinggallah ia
dengan ibunya. Selebihnya ia sedikit paham tentang situasi yang melingkupinya.
Tentang perbincangan Ayahnya dengan Abah menyangkut Negara yang diurusi
orangorang pusat. Juga tentang tanah yang ditumbuhi tebutebu yang baru saja
kuncup. Ada segaris paham yang tibatiba mekar dalam kepalanya. Sebab beberapa
tahun yang lalu, dimana Ayahnya berbincang rahasia dengan Abah, ia mendengarkan
lamatlamat dari bilik dapur. Walau Madah tak paham sepenuhnya, bukan berarti ia
anak yang bodoh, dari perbincangan itu, ada sekalimah Ayahnya yang ia rekam
betul pada bilik kepalanya; orangorang pusat semuannya tak bernegara.[]
Pare,
Harisiang, 220313.