Aku hanya duduk terpaku, pandanganku terhampar jauhjauh di
sudut cafe tempat aku menghabiskan malam. Masih banyak kursikursi yang kosong,
begitu pula meja panjang yang berpelitur coklat gelap. Sebentar lagi cafe akan
ramai dengan orangorang yang berdatangan entah
dari mana. Pikirku kota adalah tempat tinggal yang menyererupai rimba yang tak jelas asal muasalnya,
orangorang begitu saja datang dan kemudian mabuk dengan alkohol yang memenuhi
dada mereka. Kipas angin masih terus berputar, menggelantung tanpa pernah
berhenti. Di bawahnya sepasang pemudapemudi tenggelam dengan obrolan yang serius.
Lelakinya bicara tanpa peduli ke mana ia mengarahkan pandangannya, sementara
rokoknya ia hisap jauhjauh dalam memenuhi rongga dada yang membesar. Asapnya
mengepul padat dan pecah ditiup angin dari atas. Lawan bicaranya yang perempuan
tak peduli dengan sikap pasanganya, serius mendengarkan percakapannya. Malam
ini malam yang masih sama dengan kemarinkemarin. Perempuanperempuan di belakang
meja bartender masih sama. Gelasgelasnya masih dengan bentuk yang sama. Meja
bartender yang mengkilapkilap juga masih sama. Bercahaya diterpa buram lampu
yang berwarna kekuningan. Menu yang jadi brand tempat ini juga masih sama.
Perempuan bertubuh gempal tetapi begitu lincah mencatat pesanan orangorang yang
datang. Di belakangnya, seorang temannya yang juga perempuan, juga adalah perempuan yang masih sama. Tak
berubah. Ia bergerak seperti sudah diremot mengikuti catatan yang diberikan
temannya; mengambil gelas bening yang disusun rapi di atas almari yang
berjejer, menyeduh beberapa menu minuman yang diperintahkan kepadanya.
Adakalanya ia harus bekerja ekstra ketika malammalam semakin gelap, banyak yang
datang dengan menu pesanan yang beragam. Ketika itu terjadi, maka seorang
lelaki yang juga masih sama akan masuk di belakang meja bartender dan membantu
dengan gerakannya yang super lincah. Lelaki yang sebenarnya adalah kerabat dari
pemilik kafe ini tidak selalu datang sebagai pekerja di belakang meja
bartender. Tapi kalau pesanan sudah menumpuk, maka ia sering kali menyumbangkan
tenaganya untuk membantu perempuan yang sedikit kelabakan atas pesanan yang
tidak berhenti datang. Di sudut meja bartender, selalu ada seorang pria yang
berdiri dengan pandangannya yang menyapu seluruh meja kafe. Lelaki ini adalah lelaki yang juga masih sama
seperti yang sebelumnya. Pandangannya yang selalu awas itu dilakukannya untuk
menjaga dan memastikan orangorang yang datang sudah mendapatkan pesanan yang
semestinya. Sering kali juga, itu dilakukannya untuk bergerak sigap bagi
pengunjung yang baru datang. Dengan langkahnya yang tidak terlalu terburuburu,
pria dengan antinganting di telinga kirinya ini akan datang dengan membawa
daftar menu. Pria ini tubuhnya tidak lebih tinggi dari dua meter, beratnya
barangkali hanya bekisar tujuh pulu kilogram. Ia selalu bolakbalik dari tempat
ia biasa berdiri mengawasi dengan mejameja pengunjung. Begitu seterusnya ia
bekerja, mengawasi dan mendatangi pengunjung dengan buku daftar menu yang tak
pernah lepas dari tangannya dan juga masih sama. Untuk tugas menu yang siap
diantarkan, lelaki pengawas ini dibantu oleh seorang pelayan muda yang masih
saja sama. Mereka berdualah yang banyak menyapa pengunjung dengan sedikit
basabasi seorang pelayan. Lelaki muda ini sering kali menggunakan baju berwarna
merah. Semenjak aku sering datang di kafe ini, hampir semua di waktu
kedatanganku disambutnya dengan baju berwarna merah. Barangkali hanya baju
berwarna merahlah yang memenuhi almarinya. Pernah suatu waktu di bulan Oktober,
ia menggunakan baju yang berwarna merah terang beserta topi yang juga berwarna
merah. Ia di waktu itu menjadi sorotan pengunjung kafe karena dengan celananya
pula ia menggunakan dengan warna merah. Tak jelas kenapa di hari itu ia
berpenampilan semacam itu, karena di waktu itu ia lebih banyak diam
dibandingkan harihari biasa. Lelaki muda ini yang paling gesit di antara
orangorang di dalam cafe, mondarmandir dengan membawa kain lap di pundaknya.
Sering kali pula ia yang sibuk membersihkan sisasisa keramaian berupa
kulitkulit kacang dan botolbotol bir yang ditinggal begitu saja. Mengelap meja
yang sama setiap malam yang pelanggan. Di luar juga masih sama, kendaraan yang
diparkir ituitu saja. Ada mobil sedan yang tak pernah berpindah dari sudut
parkiran kafe. Mobil berwarna silver itu adalah kepunyaan pemilik kafe yang
bertubuh pendek dan tambun. Ketika waktu sudah jam sepuluh, maka ia pun datang
dengan baju oblong. Orangnya terlihat santai dalam berpenampilan. Ketika masuk,
orang yang sering disapa Om Jon ini akan mendatangi orang yang pertama kali
dilihatnya untuk berbasabasi sejenak. kebiasan ini sering dilakukannya sehingga
hampir semua pelanggan di kafe ini mengenalnya. Kebiasan ini juga yang membuat
ia dan pelangganpelanggannya semakin dekat. Setelah berbincang dengan beberapa
pengunjung, kebiasaan selanjutnya adalah adalah mendatangi meja bartender dengan
mengecek aktivitas yang berlangsung. Berbincang sejenak dengan perempuan gemuk
di balik meja dan masuk melihatlihat stok minuman yang tersimpan rapi di bawah
almari. Setelah aktivitas itu, maka Om Jon akan berbaur kembali dengan
mendatangi pelanggannya dan tenggelam dengan ceritacerita konyol yang suka ia
perdengarkan. Sementara itu mobilmobil semakin malam semakin padat menutupi
dinding kafe dari sebelah utara. Ada mobil Kijang tua yang merupakan milik dari
pria tua dengan topi koboinya itu. Mobilmobil Volsk Wagen bercat hitam dengan
banban kecil yang sudah habis karetnya. Tidak jauh di belakangnya mobil Escudo
yang sedari tadi dipenuhi kertaskertas iklan penyedia perempuan panggilan.
Hampir semua kaca di pintu mobil melekat gambargambar brosur dengan bermacammacam
perempuan cantik. Hanya satu mobil yang tidak dipenuhi brosurbrosur murahan
penyedia perempuan panggilan itu, yakni si pria tua dengan topi koboinya itu.
Pria tua ini sering kali aku lihat duduk dengan tenang di sudut dekat pintu
toilet. Ia sering kali ditemani oleh perempuanperempuan tiga puluhan atau di
atasnya, berbincang dengan muka yang muram. Sedangkan lawan bicaranya hanya
punya satu gerakan, yakni memasang telinga baikbaik mendengarkan apapun cerita
dari mulut si topi koboi itu. Sering kali di tengah perbincangan mereka, aku
saksikan mereka ketawaketiwi dengan humorhumor satire yang masih sama
diceritakan si pria tua itu. Si tua sering kali menjadikan anaknya yang
bersekolah di Eropa sebagai tokoh humornya. Pernah ia dengan setengah gelas bir
di tangannya berdiri dan bersuara lantang di tengah keramaian dengan memulai
humor satirenya. Malam itu ia menjadi pusat perhatian dengan menceritakan
anaknya yang sudah tujuh tahun di Eropa menimba ilmu, tak mengertimengerti
mengapa orangorang Eropa lebih mengenal Bali daripada Indonesia, padahal selama
tiga setengah abad Indonesia mengalami penjajahan. Bukankan itu bukti bahwa
Indonesia sudah lama dikenal di mata dunia katanya. Ia juga mengatakan langsung jawabannya bukan
karena Indonesia sudah lama dijajah, sebab saat itu belum ada Indonesia.
Indonesia disebutnya hanya di kenal ketika ilmu geografi ditemukan, begitu ia mengulangi perkataan anaknya. Berarti
orangorang Eropa tak mengenal pelajaran geografi dong, pria tua itu mengulangi
kembali pengucapan anaknya. Mendengar itu hampir semua isi kafe tertawa
mendengarnya. Ketika sudah demikian, ia langsung beranjak ke dalam toilet,
membuang air seni yang dikumpulkannya dari gelas bir pertama. Mulai saat itu
aku tahu bahwa ia duduk dekat toilet karena setiap lima gelas bir, ia langsung
beranjak masuk toilet. Pria tua bertopi tua itu bernama Eyang Rudi. Ia salah
satu pelanggan setia di kafe ini. Setiap kali ia datang, di kepalanya tak
pernah tanpa topi koboi, ia selalu berdandan dengan cara yang sama. Hanya saja
motif topi yang ia kenakan selalu bergantiganti. Ia selalu datang sendirian,
tapi biasanya setelah setengah jam kemudian mulailah datang perempuanperempuan
yang selalu setia mendengarnya bercerita disekelilingnya. Masih dengan
kebiasaan yang sama. Di dekat pintu selalu ada sepasang wanita dengan umur
empat puluhan. Mereka berdua sering datang menjelang tengah malam dengan
pakaian yang rapi dengan wangi parfum yang saya hafal, bau melati dengan
campuran musk. Bau perempuanperempuan yang berjiwa boheiman. Mereka adalah
pengunjung yang saya hafal ketika tahu bahwa mereka tak pernah menukar tempat
duduk di mana sering kali mereka menghabiskan malam. Tempat mereka dekat dengan
cerukan tembok sehingga tempat mereka agak sedikit menjorok masuk ke dalam. Ketika
mereka berbincang tak pernah sekalipun tanpa rokok mentol yang selalu
dihisapnya dengan bibir tipis mereka.
Rokok yang juga masih sama. Sepasang perempuan ini rutin datang di tiap
malam, sehingga kursi tempat mereka selalu duduk menjadi tempat yang selalu
kosong sebelum mereka datang. Mereka selalu bercerita tentang puisi. Tapi
sangat jarang mereka menyebut kata lakilaki. Ketika mereka murung, di
tengahtengah antara kami salah satu di antara mereka akan naik di atas panggung
dan membacakan puisi untuk seluruh yang ada di dalam kafe. Perempuan yang
sering kali berpuisi ini bernama Nadir. Karena sering kalinya ia tampil
berpuisi, ia mendapat julukan dari Om Jon sebagai perempuan puisi. Sementara
teman Nadir yang hanya sering takjub di tempat duduknya di saat Nadir
membacakan puisinya, bernama Anita. Ketika setiap Nadir selesai membacakan
puisinya, Anita bakal berteriak sambil berdiri dengan ucapannya yang kami sudah
hapal: tanpa puisi tak ada kehidupan. Saking hapalnya, kami sering berujar
bersamasama di waktu setiap kali Nadir mengakhiri puisinya. Tak jauh dari
mereka, duduk lima sampai enam priapria berkemeja necis dengan sepatusepatu
yang tak pernah disentuh debu jalanan. Mereka adalah pekerja kantoran yang
biasanya datang secara bergerombolan, dan paling sering memesan menu dengan
minumanminuman yang mahal. Mereka sering kali cerita tentang sekretaris bos
mereka yang bahenol tiada ampun. Pekerjaanpekerjaan di kantor dengan berkas
yang tiada habisnya, dan jam kerja yang semakin membosankan. Tapi itu mereka
lakukan karena mereka digaji dengan tinggi oleh perusahaan tempat mereka
bekerja. Sementara di bawah kipas angin yang berputar lambat, membuat sepasang
kekasih yang dari semula berbincang penuh gairah akhirnya mulai kehabisan
katakata. Mereka hanya diam seperti teater tanpa bahasa. Bergerak pelan
memikirkan entah apa. Sang pria hanya asik dengan rokok putihnya, satu dua kali
dihisap dengan napas setengah,
mengumpulkan asap di balik pipinya yang tirus. Dikeluarkannya
berkalikali, bergumpalgumpal dan hilang disapu angin yang masih terus sama dari
kipas di atasnya. Si lelaki ini bernama Jerit. Ia biasanya membawa perempuan
yang berbeda tiap kali datang. Perempuan di hadapannya, entah kekasih atau
perempuan yang di ambilnya di tengah jalan, hanya diam mengahadap layar gadget, mengusapusap atas ke
bawah atau sebaliknya. Serius ataukah hanya berusaha mendalami keacuhan yang
diberikan lelaki di hadapannya. Malam semakin dingin di luar, itu aku tahu dari
orangorang yang mulai datang. Waktu berjalan pelan dan risau. Kafe dengan
sedari tadi menjadi tempat yang ramai akhirnya pelanpelan mulai surut dari
suara. Ketika malam semakin larut suarasuara yang semula ramai pelanpelan hanya
menyisakan ketukan gelasgelas bir yang minta di isi kembali. Yang ada sunyi
yang lembab dari perasaan masingmasing. Si pria tua, Eyang Rudi dan kawankawan
perempuannya juga sudah mulai kehilangan bahan cerita, mereka duduk saling
memahami dalam diam masingmasing. Nadir dan Anita juga hanya berdiam diri dalam
puisi batin masingmasing. Sedangkan si Jerit sudah dari awal diam dengan
rokoknya. Jika sudah begini, maka yang sering kali terjadi adalah hanya tatapan
mata di antara kamikami yang saling menghormati kesunyian masingmasing.
Sementara Nadir dan Anita yang diharapkan malam ini membawkan puisinya hanya
masih duduk dengan menatap gelasgelas yang sudah mulai kosong.
Perempuanperempuan dibelakang meja kafe juga mulai bergerak dengan diam di saat
merapikan gelasgelas yang disusun rapi. Pelan seperti ada ritme yang diikuti.
Kainkain putih yang diikat dipigang menjadi kain lap yang menyapu gelasgelas
bening nan kemilau. Berdiri dengan melakukan hal yang sama. Si pria pelayan
masih setia duduk dengan menikmati minumannya yang dicicil seruput demi
seruput. Kafe ini memang kafe kesendirian, banyak orang yang datang kemari
bukan untuk menunya, melainkan tempat untuk merayakan kesunyian. Entah mengapa
tempat ini sangat jarang sepi atau bahkan kosong tanpa kedatangan pengunjung.
Ada semacam aura yang menjaga kafe ini agar tetap menarik pengunjung, walaupun
aku sudah sering kali hapal pengunjungpengunjungnya. Kami datang dari berbagai
penjuru dan beragam latar belakang pengalaman, tapi disatukan dengan kesunyian
yang dirasakan bersama. Di titik ini kami nyaman dengan semua kesunyian yang
kami sepakati bersama. Sementara aku masih saja duduk menikmati menatap
wajahwajah mereka yang semula riang akhirnya berubah muram. Mungkin kecewa.
Mungkin gelisah. Mungkin marah. Mungkin sedih. Mungkin benci. Tapi air muka
orangorang yang kuhapal ini tak pernah berubah sekalipun mereka memenangi
hadiah lotere tibatiba; lurus dan kusut. Orangorang di kafe ini memang tak
saling mengenal baik, tapi kami memahami kesendirian masingmasing. Jika sudah
begini biasanya sang pemilik kafe, Om Jon memberikan kode kepada pemain band untuk
menyanyikan tembangtembang lawas pengurai sepi. Suara sang vokalis seperti
mantra yang memberikan suasana semakin dalam.
Lagulagu yang dinyanyikan juga adalah lagu yang masih saja sama. Anehnya
kami tak pernah bosan mendengarnya. Masingmasing dari kami masuk ke dalam
kesunyian dengan intensi yang sulit dijelaskan dengan membawa penat yang
menumpuk beban. Jauh sampai ke batasbatas sepi yang samar. Kami seperti dipugar
kembali. Di luar malam semakin dingin. Waktu berjalan lambat, orangorang sudah
berhenti berdatangan, tapi kami si pengunjung kesendirian dalam kedalaman batin
yang saung bisa merasa tenang ketika membaca sekalimat pendek dengan bingkai
berwarna hitam polos di belakang meja bartender, yang di gantung tak cukup
tinggi itu; hidup yang tak direnungi, adalah hidup yang tak layak untuk
dijalani. Kalimat itulah yang sering
kali kami baca berkalikali ketika sunyi menerpa, yang membuat kami betah di
kafe ini. Kalimat itu entah bisa membuat kami setia dengan peristiwa sunyi dari
masingmasing dan juga adalah kalimat yang masih terus sama. Tapi entah siapa
yang menggantungnya di atas sana. Kalimat itu sering kali melumat setengah waku
kami yang majal.