Madah dan Matinya Carlos de Baldi; Tragedik Moral (part 1)



SEBUAH peristiwa disebut peristiwa karena ia menghentak dan menggebrak seketika. Yang melibatkan keterlibatan seorang anak manusia pada situasi yang membebal. Sebuah usaha yang hendak meloncati kejadian yang berulangulang. Seperti situasi yang dialami Madah seketika berjumpa dengan Baldi. Segenap kehidupannya runtuh dan retak sanasini dengan ucapanucapan orang tua yang ditemuinya, yang dirasakan Madah keluar dari perkiraannya. Pada percakapan itu, dengan pertemuan yang tak didugaduga, ada yang menerobos memori kelam Madah; kematian orangorang yang disayanginya.

Namun dari peristiwa yang dialami madah,  jauh di sebelah utara, iringan truk dengan gerombolan bersenjata sedang menuju tempat Madah dan Baldi berada. Pelanpelan menyusuri jalan dengan tujuan yang lurus. Menangkap hiduphidup Baldi. Kalaupun situasi tidak seperti yang diinginkan terjadi, maka hanya ada satu jalan; tembak ditempat.

Nun pada tempat yang mirip barak dengan susun bata yang kering;

‘Begitulah anak muda//  Sejarah bisa datang sebagai hakim yang memvonis//  Mendakwa apakah kita menjadi tersangkanya ataukah kita bebas dari palu masa lalunya//…’ Tak tahu apa yang dimaksudkan baldi. Tak jelas apa yang ia maksudkan. Namun jelas bahwa apa yang ia utarakan bukan berarti ia mengetahui apa yang membebani Madah dengan masa lalunya yang membebani. Tetapi itulah sifat sebuah perungkapan yang sudah terlanjur dikatakan; bebas dimaknai. Dan Madah memaknainya sebagai pendakuan yang begitu pribadi bagi dirinya. Madah merasa perutusan yang diucapkan oleh Baldi adalah ucapan yang berlaku pada dirinya.

‘dan saya kira adalah kita yang digadanggadang menjadi tersangkanya..’ Baldi menyimpulkan. ‘..bukankah begitu anak muda..’

Madah tersentak dari dasar memorinya. Tak disangka ia akan ditanyai demikian. Tak jelas apakah itu sebagai pernyataan atau pertanyaan. Namun ia menampik untuk diam. Selama ini ia tak pernah membuka tabir hidup masa lalunya pada orang lain, jadi pikirnya apa salah menjawab ucapan dari orang yang sok filsuf  yang ada di depannya itu. Barangkali ceracaunya bisa membantunya.

‘entahlah pak tua.. barangkali engkau seorang yang tau banyak. Kupikir engkau mirip seorang peramal// tibatiba datang dan bercerita tentang sejarah yang tak tahu dasar sesiapa yang kau maksud// Tetapi jika kata kita yang kau maksudkan adalah saya// maka apa boleh buat..’ Baldi tersenyum mendengarnya. Sepertinya ia benar tentang dugaannya. Bahwa Madah dilihatnya sebagai anak muda yang terbebani masalah. Nampak dari caranya membaca buku dan berbicara. Maka dari itu Baldi terus meracau.

‘kau tau madah//..’ Baru kali ini Baldi memanggil Madah dengan namanya. ‘…ada cerita yang hendak kusampaikan padamu..’ Madah melirik. ‘..teruskan saja apa yang ingin kau katakan pak tua.. oh iya Baldi.’

‘saya merasa tempat ini tak berbeda dengan tempattempat yang pernah kudatangi// Ramai dan mengasingkan, kemudian ada yang datang dan begitu saja pergi// Maka jika kita tak sempat bertemu lagi maka tak salah jika kuberikan engkau sesuatu..’ Baldi memberikan Madah gulungan kertas yang lusuh. Nampak sudah berwarna kecoklatan dan sedikit layu. Tetapi yang pasti kertas itu masih kuat untuk menampung tatapan orang sekalipun. Dan Madah tampak bingung dan kaget, bukan karena model kertasnya, melainkan apa maksud dari semua ini; perjumpaan yang tibatiba, cerita yang tak disangkasangka;  cerita yang menyudutkannya dan maksud dari kertas yang diberikan kepadanya.

‘saya tak bermaksud apaapa Madah// hanya saja kurasa engkau barangkali orang yang tepat// dan aku senang kau memanggilku dengan namaku.’ Baldi tersenym.  Apalagi ini, orang yang tepat? Apanya yang tepat? Kita baru bertemu pak tua pikir Madah.

‘lantas apa yang hendak engkau ceritakan pak tua?’ Madah kemudian menyodorkan kembali kertas Baldi kepadanya. Ia merasa gulungan kertas itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.

Sembari Baldi menjulurkan tangannya kembali kepada Madah dengan maksud menyorongkan kembali gulungan kertas kepada Madah, ia tertawa. Tertawa yang memiliki intonasi yang aneh dan meloncatloncat. Sekiranya naif dan polos sekaligus. Tertawa yang menelanjangi dunia beserta kepongahannya. Tertawa yang sebenarnya tak disukai madah.

‘terimalah Madah//aku juga tak akan siasia memberikannya padamu. Logika pemberian selalu mengalahkan tangan yang diberikan. Baldi tertawa lagi kemudian ia bercerita tentang nasib dua burung hutan;

//sudahkah engkau tahu Madah? Tentang nasib dua burung hutan yang  salah satunya mati ditembak pemburu? Baldi memulai ceritanya. //tahukah apa yang membuat burung yang satu mati ditembak? Itu karena kicauannya anak muda..// sedangkan yang satu hanya diam  berdiri pada dahan yang lain, sebab berkicau sama artinya dengan bunuh diri// Burung yang satu tahu bahwa kicauannya yang indah bukan untuk seorang pemburu, makanya ia memilih diam// Burung yang satu ditembak karena kicauannya dan makanya mengundang pendengaran dari pemburunya, sehingga ia diketahui dan mati. Burung yang satu memilih diam, karena kicauannya hanya untuk alam yang bebas.  Baldi menyudahi cerita burungnya dan kembali tertawa. Kali ini ketawanya begitu lepas dan ringan, tanpa beban.

‘lantas apa maksudmu menceritakan cerita itu padaku?// dan apa kaitannya dengan kertas ini? Madah merasa fabel yang disisipkan pada peristiwa ini sudah direncanakan oleh Baldi. Sebab Madah mengyakini betapa rapinya Baldi menceritakannya. Sepertinya kisah itu sudah disiapkan Baldi sebelumnya. Dan disisi lain, Madah merasa pasti ada kaitannya antara cerita yang dibilangkan Baldi barusan punya kaitan dengan gulungan kertas yang diberikan kepadanya.

Dengan tanpa berpikir panjang; ‘terimalah gulungan kertas ini anak muda dan kau akan tahu apa maksudku.’ Jawab Baldi tanpa beban. Baldi tersenyum menang. Disodorkan gulungan kertas itu kepada Madah kembali, dan disisipkannya pada genggaman jemari Madah dengan kuatkuat. Madah merasakan ada aura yang magis dari peristiwa itu. Dan tak tahu mengapa, Madah menerima begitu saja gulungan kertas itu. Siapa orang ini sebenarnya?

Madah dan de Baldi kemudian terdiam. Dalam batin Madah; siapa orang ini? Tibatiba duduk dan bercerita denganku. Apatah lagi berbicara tentang sejarah sebagai hakim yang siap memvonis, seperti peramal saja pikirnya. Kemudian tak disangkasangka memberikanku segulungan kertas yang sudah lusuh ini. Apa maksud semua ini. Dan kenapa aku seperti tersedot pada ceritaceritanya, dan kemudian mau saja menerima gulungan kertas yang diberikannya. Apakah ditiap wicaranya ada mantra yang ia selipkan,  sehingga aku menjadi seperti budaknya yang tanpa pamrih mengikuti semua apa yang diinginkannya? Madah masih membatin.

Sementara Baldi masih terdiam dan akrab dengan pipa rokoknya. Ia bersiul dan mendendangkan sebuah bait lagu dalam ketenangannya. Sambil menutup mata dan menikmati lagunya yang menandakan kebebasannya, ia semakin larut dengan baitbait lagunya. Irama lagu yang begitu asing dan jauh. Seperti lagu yang diajarkan pada anakanak di gerejagereja tua untuk menjelang hari kebangkitan Kristus. Sebuah irama yang juga ditemukan pada litanilitani di tanah timur jauh. Sebuah lagu yang mengundang raga untuk lari dari jeratannya terhadap dunia. Raga yang ingin bebas melayang menemukan jalan jiwa yang telah dahulu mencapai nirwana. Sebuah dunia yang tak mengenal gerak dan bebas. 

Dan madah tibatiba merasa jiwanya meronta dan pilu. Mengandaikan dunia yang mampu melepaskan seluruh beban yang selama ini menawannya. Jiwa madah semakin pilu dan merindukan sebuah tempat yang nirduniawi. Batin Madah basah oleh siulan Baldi yang begitu ritmik. Sebuah irama tanpa syair ritmik dan mitis. Mengalun dan masih terus mengalun.





TRUK yang mengepulkan asap itu masih terus berjalan. Dibawah kolong langit yang melompong. Membelah ronggaronga perkampungan yang dilewatinya. Berliukliuk ia di atas tanah yang meronta kering. Di atasnya penuh dengan orangorang yang melihat dunia dengan hasil instruksiintruksi pundak berbintang. Orangorang yang selalu sedia dijejali dengan asupanasupan tentang tanah yang harus dibela. Sementara nyawa adalah taruhan terakhir yang bersedia diberikan demi bendera yang diagungkan. Dimana pada isi kepala mereka ada satu nama yang direkam betul; Carlos de Baldi.

Sementara ditempat yang dituju; bangunan bata tua dan segulungan kertas yang telah berpindah tangan semakin jelas dari kejauhan di atas bukit. Dimana Madah dan Carlos de Baldi berada bersama orangorang yang dari tadi menciumi bau khas dari tembakau Baldi. Tembakau dari tempat yang begitu jelas diingatan orangorang dan itu menjadi petanda bahwa Baldi bukanlah orang sembarangan. Tetapi mengapa penampilan Baldi mirip dengan seorang dari tukang sirkus keliling?

Jauh dari tempat mereka, di atas truk yang semakin laju menuruni bukit, dengan meninggalkan jejak yang rapat di atas tanah yang berdebu. Dengan langit yang benderang dengan pijar matahari mentabik pada gununggunung yang mahadahsyat. Bukitbukit bebatuan yang terjal dank eras, segaris senyum Jendral mengembang. Senyuman misterius yang sering menjadi penanda datangnya malapetaka; Jendral Micheda.