Madah dan Carlos de Baldi; Sebuah Perjumpaan
Lelaki
itu setinggi tiga jengkal dari punggung keledai yang berdiri tegak, kira-kira
setinggi seratus enam puluh sembilan.
Alisnya sedikit tebal dengan kilau mata yang mirip batu zenit. Hidungnya
tidaklah mancung namun cukup memiliki ujung yang sedikit bercahaya jika
tersentuh sinar matahari. Membuat bayang segitiga jika diterpa dari kanan kiri
tubuhnya. Jika para petani hendak memanen padi pada musim petik maka rambutnya
menyerupai warna padi yang sedikit gelap kecoklatan. Rambutnya sedikit ikal.
Langkahnya jika berjalan akan membentang sejauh satu langkah anak yang berusia
dua tahunan, itu jika dimulai dengan kaki kirinya. Beda jika ia melangkahkan
kaki dengan kaki kanannya terlebih dahulu, maka akan tampak jika kaki kanannya
lebih jauh ditarik dibandingkan dengan kaki kirinya. Ia adalah seorang yang
pincang. Caranya berjalan seperti kereta
kuda yang melewati undakan kerikil. Kepalanya menggariskan grafik naik turun.
Namanya
pincang, tidak selamanya bernasib baik. Seperti kepincangan, nasib bisa jadi
lebih berat sebelah. Mungkin saja nasib bagi sebahagian orang adalah urusan
yang tak mesti dibincangkan. Biarlah itu urusan mahluk bernaman takdir. Toh takdir adalah sesuatu
yang tak terjangkau tangan manusia, bahkan pikiran sekalipun. Tetapi tidak bagi
Carlos de Baldi, urusan takdir adalah urusan bagaimana hidup harus terus di
ayun. Takdir baginya seperti sesuatu yang disaksikan dengan mata telanjang; ia
harus dilihat, luput sedikit pun maka ia akan ghalib ditelan kebutaan. Karena
inilah, de Baldi tak mesti berharap pandangan sayu orangorang yang berada
disekitarnya, tentu mahluk yang bernama takdir seperti tongkat yang ia miliki,
ia seperti sebilah kayu yang harus dipegang. Kemana arah kayu di arahkan, maka
itu urusan tangan siapa yang mengayun.
Sore
ini de Baldi, berada pada daerah yang asing. Kerumunan orang-orang yang ia
temui pun demikian. Dengan wajah asing, melempar senyum petanda seperti melihat
tahi dikubangan ujung desa. Tetapi baldi tak menaruh sedikitpun perhatian.
Buang-buang waktu jika mengurusi perihal yang tak jelas nasibnya. Apalagi
menggerutu, baldi hanya melemparkan asap rokoknya menguap kelangit-langit di
atasnya. Ditangannya diselipkan pipa rokok yang telah bertahun-tahun dibawanya.
Sama dengan tongkatnya. Tetapi ada yang menarik lebih dari perhatian baldi pada
kerumunan orang-orang, pandangannya tiba pada sepetak bangunan yang samar-samar
terbuat dari susunan batu merah. Corongnya berasap.
Di
dalamnya banyak orang. Berkumpul dan bercerai berai. Bercerita dan mendiami
gelasgelas yang melompong. Tempat ini semacam kafe, tetapi tidak ada bartender
di dalamnya. Lebih dekat seperti tempat penampungan. Barangkali seperti barak.
Setiap mata mengikuti kemana Baldi bergerak. Baldi menggenapi langkahnya dan
duduk di sekitar sudut di bawah lampu yang menyala satir. Nyalanya mengejek,
bahwa nasib kalian manusia tak beda dengan cahaya remangremang. Dan memang
barangkali orangorang yang ada didalamnya mengamini. Bahwa nasib mereka memang
tak jelas.
Di
samping baldi tampak seorang muda. Keperawakannya tenang dan tak urus dengan
kedatangan Baldi. Ternyata dia Madah. Duduk dengan ratapan serius pada buku
yang dibacanya. Cara ia membacanya dengan sembunyisembunyi Sepertinya buku
madah buku yang dilarang.. De Baldi tersenyum. Senyumnya merendahkan. Kemudian;
‘nampaknya
harus sedikit serius’. De Baldi memecah kekosongan.
‘situasi
sekarang buku bukan pilihan yang cocok’. Tak jelas kepada siapa baldi
berbicara. Namun ia seperti menyitir anak muda di sampingnya. Madah. Madah
menggerakan bola matanya. Sudut matanya lancip. Punggungnya bergerak. Masih
diam. Madah kembali mengeja.
‘apa
urusannmu pak tua?’. Mata madah masih tenggelam pada bukunya.
‘iya..
bukan pilihan yang tepat’. Baldi merasa bahasanya termakan umpan. Sepertinya
Baldi senang. Ia bisa bercerita banyak. Dan anak muda ini nampaknya orang yang
tepat.
Buku
di hadapan Madah masih terbuka. Madah serius. Kepalanya masih mencerna.
Berputar dan bahasa pak tua ini tak kala hebatnya. ‘urus saja urusanmu pak
tua.. kita tidak saling mengenal’.
‘de
Baldi.. namaku Carlos de Baldi’ Baldi menyebut namannya. Orangorang sekitar menengok.
Muka mereka tibatiba berubah. Di sekitar mereka suasananya tak jauh dari kesan
yang mencekam. Di situasi seperti ini namanama tertentu biasanya menjadi
malapetaka bila di ketahui oleh umum.
‘Lantas
apa urusanku denganmu?’.. Madah merasa waktunya terusik. Di masukkan bukunya di
dalam tasnya. Di jatuhkannya dibawah meja, kemudian di injaknya. ‘kau
mendapatkan perhatianku pak tua.
‘panggil
aku Baldi dan kurasa aku belum setua perkataanmu’.. ‘kurasa engkau sedang dalam
masalah anak muda’. Baldi mengeluarkan pipanya dan mengusapnya pada bajunya
yang kusut. Pipanya berkilau. ‘dan bukumu itu, buku yang bisa menyedot sesiapa
yang membawanya.. apalagi membacanya’…’dalam masalah tentunya’.
‘Tetap
saja engkau tua.. urusan apa lagi yang dikerjaan orang tua jika bukan
mengganggu waktu orang’. Baldi tersenyum miring mendengarnya. ‘apa urusanmu
denganku’ Madah investigative.
‘nampaknya
engkau sudah mulai kasihan kepada orang tua ini nak’. Baldi memanasi dengan
kalimatnya yang menyitir. Baginya dalam kalimat itu ada penggal nasib yang
secara jujur ia ungkapkan. Seperti bahasa alam bawah sadar yang keluar dari
fragmen yang terbuka. ‘kupikir rasa kasihanmu itu ungkapan yang barangkali berangkat dari hilangnya waktu
yang engkau miliki…tahukah anak muda?.. begitulah pekerjaan seorang tua..
aktivitasnya hanya dihabiskan untuk mencuri masa yang dipenjara oleh sejarah’
‘panggil
aku Madah’.. Madah menghentak ruang kosong.
‘oh
ya..ya Madah.. Madah, nama yang jauh. Sebuah nama yang baru di dengar Baldi.
Nama yang begitu tampak asing.
‘apanya
yang harus serius?’ Madah tibatiba berbalik bertanya. Baldi kemudian heran.
Matanya menyerngit. Air mukanya berubah. ‘bukannya engkau tadi mengatakannya
pak tua’. Sebuah pernyataan dari madah membuyarkan Baldi.
‘oh
ya..ya.. engkau harus penuh konsentrasi dalam menyikapi hidupmu nak..’ Baldi
mengerti apa yang dipertanyakan Madah. Madah bingung dengan pernyataan pak tua
ini. Kabut tebal apa yang memusingkan daripada perkataan pak tua ini. Zaman
boleh saja membingungkan dengan batubatu keras yang tibatiba di suatu waktu
mengencer tak sisa. Namun perkataan tua ini lebih membingungkan. Seperti
jalanjalan yang melabirin menikung tibatiba dipersimpangan Tibatiba
perucapannya tak ada kaitan dengan semuanya. Tentang hidupnya.
‘nampaknya
engkau bingung anak muda.. ha. ha. ha. ha.. o ya ya yaa Madah.. Madah’. Baldi
dengan ketawanya itu membuat ia kelihatan tua. Gigiginya banyak yang hitam.
Tetapi setidaknya dari caranya berbicara
dengan orangorang membuatnya nampak
seperti seorang yang punya gudang cerita yang banyak. Baldi memanglah cacat, kakinya patah akibat
terjatuh saat dia masih menjadi anggota sirkus keliling. Dia sering
mempertunjukan aksinya dengan caracara yang ekstreem.
‘tidak
ada yang patut di tertawakan pak tua’ .. madah merasa sisi binatangnya terusik.
‘kurasa justru sebaliknya anak muda, kita mesti tertawa.. dengan tertawa masa
lalu akan gampang kita kecoh ha ha ha ha’…’Baiklah anak muda.. oh iya, Madah..
dengarkan ini, tertawa itu kejahatan
yang dilegalkan.’ Baldi kembali serius. Masa lalu bagi Baldi adalah ilusi yang
di pertegas dengan keyakinan bahwa sesuatu sudah pernah terjadi. Baginya tidak
ada kata sudah maupun urusan yang selesai. Semuanya hanyalah peran yang
dijalani. Dan tertawa adalah usaha mengelabui terhadap kesalahan masa lalu.
Bahwa masa lalu adalah seperti bermain petak umpet. Terkadang masa lalu
mendapati kita, atau kita yang mengecohnya pada hitungan selanjutnya di
persimpangan sejarah.
‘terserahlah..
itu urusanmu untuk ketawa.. tetapi apa urusannmu denganku,, sampaisampai berhak
mencampuriku dengan perutusanmu tentang
hidupku’..’kurang serius,,,hek’ nada mengejek di akhir kalimat Madah
menjadi getir. Seperti fragmen yang berusaha ia tinggalkan kemudian muncul
kembali.
‘sabar..sabar
anak muda.. bukan begitu cara memperlakukan orang tua’ Baldi menyalakan
pipanya. Bau tembakaunya menyulut imagi yang tertidur. Baunya khas daerah yang
penuh dengan sulur bintangbintang. Karangkarang yang diterpa angin dengan suara
yang runcing. Tanah yang lembab oleh angin pegunungan. Siapa saja tahu bau
tembakau yang di bakar Baldi. Segenap kemudian merasa Baldi bukan orang biasa.
Bau tembakau itu, bau yang khas. Namun kenapa bisa sampai disini pikir
orangorang.
‘saya
hanya merasa layak mencari teman anak muda,, tempat ini masih asing bagiku,,
apalagi bukumu itu yang mengundangku’ Baldi melanjutkan perucapannya.
‘buku
apa maksudmu.. saya tak mengerti..’ dahi Madah berkerut, tas yang berada di
bawahnya ia tekan dengan kakinya. Kali ini dengan kedua kakinya.
‘ah
sudahlah.. tidak usah engkau pikirkan anak mudah.. oh ya ya Madah.’ Baldi
berusaha mengubah topik pembicaraannya. Dari sinyal yang ditangkapnya. Ia sudah
mengerti. Lagian ia tak ingin membincang tentang perihal itu. ‘apa yang membuat
anak muda seumurmu datang ketempat seperti ini..’
Madah
hanya tersenyum. ‘Kenapa pertanyaan itu tidak kau lemparkan saja bagi dirimu..’
‘saya
kira itu hak semua orang untuk melangkahkan kakinya hendak kemana’. Baldi
berusaha keluar dari situasi yang memerangkapnya. Ucapan yang tak disangkanya
oleh Madah membuatnya kikuk. Tapi seketika Baldi berhasil menundukkan situasi.
Ia tersenyum. ‘Kita punya sejarah masingmasing anak muda.. dan kita, saya pikir
adalah tawanan yang berusaha lari dari kendalinya’.
Tibatiba
madah tersentak mendengar ucapan orang tua satu ini. Tak di duga kalimat Baldi
begitu privativ dirasakan oleh Madah. Ingatannya bagai tali yang dijulur
kemudian merentang sampai jauh kebelakang. Sampai kepada potonganpotongan
ingatannya tentang tahuntahun yang lampau. Masamasa yang kelam. Masa dimana ia
menyaksikan terbunuhnya Ayahnya, Abah yang mati di pangkuannya. Dan kehidupan
yang suram dengan ibunya. Madah merasa kehidupan pribadinya terkuak
dihadapannya. Siapa orang ini, tibatiba perucapannya begitu sarat.
‘sudahlah
anak muda..oh ya ya Madah.. Kita semua punya masa lalu yang tak bisa kita
tinggal begitu saja. Masa lalu seperti laci yang kita tinggalkan tertutup
rapat. Tapi bukan berarti ia tak memiliki kunci.’ Baldi membijaki, seperti
seorang filsuf.
Madah
hanya terdiam. Tibatiba pertemuan ini dia rasakan sebagai godam yang memalu
benteng memorinya. Menghancurkan batas yang memagari dirinya dengan ingatan
masa lalunya. Dari mana orang tua ini. Tibatiba seperti petapa yang turun dari
bukit keterasingannya dengan khotbahkhotbah yang tak pernah didengar oleh
orangorang. Madah masih diam. Hatinya tertegun.
‘tak
usah engkau pikirkan anak muda.ha hahaha…’Baldi kembali tertawa. Ia membaca
situasi. Nampak betul Madah seperti memiliki godam berat yang ia pikul di balik
punggungnya. ‘Sejarah bisa menjadi penjara anak muda.. masa lalu sudah tak
mampu kita ubah, masa depanlah panggung peristiwa apa yang ingin kita berikan.’
Apalagi
ini, tibatiba begitu mirip sebuah kitab yang dibacakan. Batin madah merapal.
Orang ini aneh. Mirip betul seperti pengelana yang tak tahu dari mana
datangnya. Selama ini dari masamasa yang ia lalui, begitu banyak peristiwa yang
ia lalui. Masa lalunya ia simpan rapat dan sudah ia tutupi dari
ingataningatannya. Dimana Madah ingin keluar dari perangkap masa lalunya. Dari
bayangbayang yang membuatnya terbebani. Namun masa lalunya seperti gunung yang
ia tarik. Tak mampu ia membawanya. Namun perkataan orang tua ini seperti
peramal saja. Tapi apa yang di ketahui dari orang tua ini tentang masa lalunya.
Tibatiba membuka perbincangan dan kemudian seperti mengetahui kisah masah
lalunya. Masa depanlah panggung peristiwa apa yang ingin kita berikan? Madah
membatin
.***
Jauh
di sebelah utara dari tempat Madah dan Carlos de Baldi, kirakira di sekitar
kaki bukit. Bergerak iriiringan truk dengan orangorang yang memegang senjata.
Berbaris membentuk garis lurus yang padat. Rodanya mengepulkan debu kental,
menerbangkan pasirpasir halus. Keluar kepulan asap hitam dibelakangnya.
Orangorang yang di lewatinya menyingkir memberikan jalan. Berlarian entah
kemana. Iringan truk itu pelan menuruni bukit, tetapi arahnya jelas. Menuju
tempat Madah dan de Baldi berada.