Madah dan Carlos de Baldi; Sebuah Perjumpaan



Tahun 1956. Di sebuah tempat.

Lelaki itu setinggi tiga jengkal dari punggung keledai yang berdiri tegak, kira-kira setinggi seratus enam puluh sembilan.  Alisnya sedikit tebal dengan kilau mata yang mirip batu zenit. Hidungnya tidaklah mancung namun cukup memiliki ujung yang sedikit bercahaya jika tersentuh sinar matahari. Membuat bayang segitiga jika diterpa dari kanan kiri tubuhnya. Jika para petani hendak memanen padi pada musim petik maka rambutnya menyerupai warna padi yang sedikit gelap kecoklatan. Rambutnya sedikit ikal. Langkahnya jika berjalan akan membentang sejauh satu langkah anak yang berusia dua tahunan, itu jika dimulai dengan kaki kirinya. Beda jika ia melangkahkan kaki dengan kaki kanannya terlebih dahulu, maka akan tampak jika kaki kanannya lebih jauh ditarik dibandingkan dengan kaki kirinya. Ia adalah seorang yang pincang.  Caranya berjalan seperti kereta kuda yang melewati undakan kerikil. Kepalanya menggariskan grafik naik turun.

Namanya pincang, tidak selamanya bernasib baik. Seperti kepincangan, nasib bisa jadi lebih berat sebelah. Mungkin saja nasib bagi sebahagian orang adalah urusan yang tak mesti dibincangkan. Biarlah itu urusan mahluk  bernaman takdir. Toh takdir adalah sesuatu yang tak terjangkau tangan manusia, bahkan pikiran sekalipun. Tetapi tidak bagi Carlos de Baldi, urusan takdir adalah urusan bagaimana hidup harus terus di ayun. Takdir baginya seperti sesuatu yang disaksikan dengan mata telanjang; ia harus dilihat, luput sedikit pun maka ia akan ghalib ditelan kebutaan. Karena inilah, de Baldi tak mesti berharap pandangan sayu orangorang yang berada disekitarnya, tentu mahluk yang bernama takdir seperti tongkat yang ia miliki, ia seperti sebilah kayu yang harus dipegang. Kemana arah kayu di arahkan, maka itu urusan tangan siapa yang mengayun.

Sore ini de Baldi, berada pada daerah yang asing. Kerumunan orang-orang yang ia temui pun demikian. Dengan wajah asing, melempar senyum petanda seperti melihat tahi dikubangan ujung desa. Tetapi baldi tak menaruh sedikitpun perhatian. Buang-buang waktu jika mengurusi perihal yang tak jelas nasibnya. Apalagi menggerutu, baldi hanya melemparkan asap rokoknya menguap kelangit-langit di atasnya. Ditangannya diselipkan pipa rokok yang telah bertahun-tahun dibawanya. Sama dengan tongkatnya. Tetapi ada yang menarik lebih dari perhatian baldi pada kerumunan orang-orang, pandangannya tiba pada sepetak bangunan yang samar-samar terbuat dari susunan batu merah. Corongnya berasap.

Di dalamnya banyak orang. Berkumpul dan bercerai berai. Bercerita dan mendiami gelasgelas yang melompong. Tempat ini semacam kafe, tetapi tidak ada bartender di dalamnya. Lebih dekat seperti tempat penampungan. Barangkali seperti barak. Setiap mata mengikuti kemana Baldi bergerak. Baldi menggenapi langkahnya dan duduk di sekitar sudut di bawah lampu yang menyala satir. Nyalanya mengejek, bahwa nasib kalian manusia tak beda dengan cahaya remangremang. Dan memang barangkali orangorang yang ada didalamnya mengamini. Bahwa nasib mereka memang tak jelas.

Di samping baldi tampak seorang muda. Keperawakannya tenang dan tak urus dengan kedatangan Baldi. Ternyata dia Madah. Duduk dengan ratapan serius pada buku yang dibacanya. Cara ia membacanya dengan sembunyisembunyi Sepertinya buku madah buku yang dilarang.. De Baldi tersenyum. Senyumnya merendahkan. Kemudian;

‘nampaknya harus sedikit serius’. De Baldi memecah kekosongan.

‘situasi sekarang buku bukan pilihan yang cocok’. Tak jelas kepada siapa baldi berbicara. Namun ia seperti menyitir anak muda di sampingnya. Madah. Madah menggerakan bola matanya. Sudut matanya lancip. Punggungnya bergerak. Masih diam. Madah kembali mengeja.

‘apa urusannmu pak tua?’. Mata madah masih tenggelam pada bukunya.

‘iya.. bukan pilihan yang tepat’. Baldi merasa bahasanya termakan umpan. Sepertinya Baldi senang. Ia bisa bercerita banyak. Dan anak muda ini nampaknya orang yang tepat.

Buku di hadapan Madah masih terbuka. Madah serius. Kepalanya masih mencerna. Berputar dan bahasa pak tua ini tak kala hebatnya. ‘urus saja urusanmu pak tua.. kita tidak saling mengenal’.

‘de Baldi.. namaku Carlos de Baldi’ Baldi menyebut namannya. Orangorang sekitar menengok. Muka mereka tibatiba berubah. Di sekitar mereka suasananya tak jauh dari kesan yang mencekam. Di situasi seperti ini namanama tertentu biasanya menjadi malapetaka bila di ketahui oleh umum.

‘Lantas apa urusanku denganmu?’.. Madah merasa waktunya terusik. Di masukkan bukunya di dalam tasnya. Di jatuhkannya dibawah meja, kemudian di injaknya. ‘kau mendapatkan perhatianku pak tua.

‘panggil aku Baldi dan kurasa aku belum setua perkataanmu’.. ‘kurasa engkau sedang dalam masalah anak muda’. Baldi mengeluarkan pipanya dan mengusapnya pada bajunya yang kusut. Pipanya berkilau. ‘dan bukumu itu, buku yang bisa menyedot sesiapa yang membawanya.. apalagi membacanya’…’dalam masalah tentunya’.

‘Tetap saja engkau tua.. urusan apa lagi yang dikerjaan orang tua jika bukan mengganggu waktu orang’. Baldi tersenyum miring mendengarnya. ‘apa urusanmu denganku’ Madah investigative.

‘nampaknya engkau sudah mulai kasihan kepada orang tua ini nak’. Baldi memanasi dengan kalimatnya yang menyitir. Baginya dalam kalimat itu ada penggal nasib yang secara jujur ia ungkapkan. Seperti bahasa alam bawah sadar yang keluar dari fragmen yang terbuka. ‘kupikir rasa kasihanmu itu ungkapan yang  barangkali berangkat dari hilangnya waktu yang engkau miliki…tahukah anak muda?.. begitulah pekerjaan seorang tua.. aktivitasnya hanya dihabiskan untuk mencuri masa yang dipenjara oleh sejarah’

‘panggil aku Madah’.. Madah menghentak ruang kosong.

‘oh ya..ya Madah.. Madah, nama yang jauh. Sebuah nama yang baru di dengar Baldi. Nama yang begitu tampak asing.

‘apanya yang harus serius?’ Madah tibatiba berbalik bertanya. Baldi kemudian heran. Matanya menyerngit. Air mukanya berubah. ‘bukannya engkau tadi mengatakannya pak tua’. Sebuah pernyataan dari madah membuyarkan Baldi.

‘oh ya..ya.. engkau harus penuh konsentrasi dalam menyikapi hidupmu nak..’ Baldi mengerti apa yang dipertanyakan Madah. Madah bingung dengan pernyataan pak tua ini. Kabut tebal apa yang memusingkan daripada perkataan pak tua ini. Zaman boleh saja membingungkan dengan batubatu keras yang tibatiba di suatu waktu mengencer tak sisa. Namun perkataan tua ini lebih membingungkan. Seperti jalanjalan yang melabirin menikung tibatiba dipersimpangan Tibatiba perucapannya tak ada kaitan dengan semuanya. Tentang hidupnya.

‘nampaknya engkau bingung anak muda.. ha. ha. ha. ha.. o ya ya yaa Madah.. Madah’. Baldi dengan ketawanya itu membuat ia kelihatan tua. Gigiginya banyak yang hitam. Tetapi  setidaknya dari caranya berbicara dengan orangorang  membuatnya nampak seperti seorang yang punya gudang cerita yang banyak.  Baldi memanglah cacat, kakinya patah akibat terjatuh saat dia masih menjadi anggota sirkus keliling. Dia sering mempertunjukan aksinya dengan caracara yang ekstreem.

‘tidak ada yang patut di tertawakan pak tua’ .. madah merasa sisi binatangnya terusik. ‘kurasa justru sebaliknya anak muda, kita mesti tertawa.. dengan tertawa masa lalu akan gampang kita kecoh ha ha ha ha’…’Baiklah anak muda.. oh iya, Madah.. dengarkan ini,  tertawa itu kejahatan yang dilegalkan.’ Baldi kembali serius. Masa lalu bagi Baldi adalah ilusi yang di pertegas dengan keyakinan bahwa sesuatu sudah pernah terjadi. Baginya tidak ada kata sudah maupun urusan yang selesai. Semuanya hanyalah peran yang dijalani. Dan tertawa adalah usaha mengelabui terhadap kesalahan masa lalu. Bahwa masa lalu adalah seperti bermain petak umpet. Terkadang masa lalu mendapati kita, atau kita yang mengecohnya pada hitungan selanjutnya di persimpangan sejarah.

‘terserahlah.. itu urusanmu untuk ketawa.. tetapi apa urusannmu denganku,, sampaisampai berhak mencampuriku dengan perutusanmu tentang  hidupku’..’kurang serius,,,hek’ nada mengejek di akhir kalimat Madah menjadi getir. Seperti fragmen yang berusaha ia tinggalkan kemudian muncul kembali.

‘sabar..sabar anak muda.. bukan begitu cara memperlakukan orang tua’ Baldi menyalakan pipanya. Bau tembakaunya menyulut imagi yang tertidur. Baunya khas daerah yang penuh dengan sulur bintangbintang. Karangkarang yang diterpa angin dengan suara yang runcing. Tanah yang lembab oleh angin pegunungan. Siapa saja tahu bau tembakau yang di bakar Baldi. Segenap kemudian merasa Baldi bukan orang biasa. Bau tembakau itu, bau yang khas. Namun kenapa bisa sampai disini pikir orangorang.

‘saya hanya merasa layak mencari teman anak muda,, tempat ini masih asing bagiku,, apalagi bukumu itu yang mengundangku’ Baldi melanjutkan perucapannya.

‘buku apa maksudmu.. saya tak mengerti..’ dahi Madah berkerut, tas yang berada di bawahnya ia tekan dengan kakinya. Kali ini dengan kedua kakinya.

‘ah sudahlah.. tidak usah engkau pikirkan anak mudah.. oh ya ya Madah.’ Baldi berusaha mengubah topik pembicaraannya. Dari sinyal yang ditangkapnya. Ia sudah mengerti. Lagian ia tak ingin membincang tentang perihal itu. ‘apa yang membuat anak muda seumurmu datang ketempat seperti ini..’

Madah hanya tersenyum. ‘Kenapa pertanyaan itu tidak kau lemparkan saja bagi dirimu..’

‘saya kira itu hak semua orang untuk melangkahkan kakinya hendak kemana’. Baldi berusaha keluar dari situasi yang memerangkapnya. Ucapan yang tak disangkanya oleh Madah membuatnya kikuk. Tapi seketika Baldi berhasil menundukkan situasi. Ia tersenyum. ‘Kita punya sejarah masingmasing anak muda.. dan kita, saya pikir adalah tawanan yang berusaha lari dari kendalinya’.

Tibatiba madah tersentak mendengar ucapan orang tua satu ini. Tak di duga kalimat Baldi begitu privativ dirasakan oleh Madah. Ingatannya bagai tali yang dijulur kemudian merentang sampai jauh kebelakang. Sampai kepada potonganpotongan ingatannya tentang tahuntahun yang lampau. Masamasa yang kelam. Masa dimana ia menyaksikan terbunuhnya Ayahnya, Abah yang mati di pangkuannya. Dan kehidupan yang suram dengan ibunya. Madah merasa kehidupan pribadinya terkuak dihadapannya. Siapa orang ini, tibatiba perucapannya begitu sarat.

‘sudahlah anak muda..oh ya ya Madah.. Kita semua punya masa lalu yang tak bisa kita tinggal begitu saja. Masa lalu seperti laci yang kita tinggalkan tertutup rapat. Tapi bukan berarti ia tak memiliki kunci.’ Baldi membijaki, seperti seorang filsuf.

Madah hanya terdiam. Tibatiba pertemuan ini dia rasakan sebagai godam yang memalu benteng memorinya. Menghancurkan batas yang memagari dirinya dengan ingatan masa lalunya. Dari mana orang tua ini. Tibatiba seperti petapa yang turun dari bukit keterasingannya dengan khotbahkhotbah yang tak pernah didengar oleh orangorang. Madah masih diam. Hatinya tertegun.

‘tak usah engkau pikirkan anak muda.ha hahaha…’Baldi kembali tertawa. Ia membaca situasi. Nampak betul Madah seperti memiliki godam berat yang ia pikul di balik punggungnya. ‘Sejarah bisa menjadi penjara anak muda.. masa lalu sudah tak mampu kita ubah, masa depanlah panggung peristiwa apa yang ingin kita berikan.’

Apalagi ini, tibatiba begitu mirip sebuah kitab yang dibacakan. Batin madah merapal. Orang ini aneh. Mirip betul seperti pengelana yang tak tahu dari mana datangnya. Selama ini dari masamasa yang ia lalui, begitu banyak peristiwa yang ia lalui. Masa lalunya ia simpan rapat dan sudah ia tutupi dari ingataningatannya. Dimana Madah ingin keluar dari perangkap masa lalunya. Dari bayangbayang yang membuatnya terbebani. Namun masa lalunya seperti gunung yang ia tarik. Tak mampu ia membawanya. Namun perkataan orang tua ini seperti peramal saja. Tapi apa yang di ketahui dari orang tua ini tentang masa lalunya. Tibatiba membuka perbincangan dan kemudian seperti mengetahui kisah masah lalunya. Masa depanlah panggung peristiwa apa yang ingin kita berikan? Madah membatin

.***

Jauh di sebelah utara dari tempat Madah dan Carlos de Baldi, kirakira di sekitar kaki bukit. Bergerak iriiringan truk dengan orangorang yang memegang senjata. Berbaris membentuk garis lurus yang padat. Rodanya mengepulkan debu kental, menerbangkan pasirpasir halus. Keluar kepulan asap hitam dibelakangnya. Orangorang yang di lewatinya menyingkir memberikan jalan. Berlarian entah kemana. Iringan truk itu pelan menuruni bukit, tetapi arahnya jelas. Menuju tempat Madah dan de Baldi berada.