Madah dan Kematian Carlos de Baldi; Tragedik Moral (Part 2)
Jendral Micheda adalah sosok raksasa itu. Di mana hari ini
kekuasaannya menghendaki sebuah nama menemukan ajalnya: Carlos de Baldi. Orang
yang selama ini membuat Jendral Micheda nampak sebagai monster yang begitu
lihai memberangus. Namun apa yang sudah dilakukan Baldi hingga kekuasaan
Micheda menjadi tumpul di hadapan anak buahnya?
Bagaimanapun seorang jendral tak ingin terlihat dungu di
hadapan bawahannya. Namun satu hal yang hanya dan harus diketahui oleh bawahan
Micheda; Baldi adalah orang yang merusak dan harus diberangus. Sebab
kekuasaannya tidak mengenal tanda tanya. Intruksi Micheda adalah petanda yang
harus dikerjakan dengan sempurna oleh seluruh bawahannya. Biarkanlah hanya
Micheda yang mengetahuinya. Dalam hal ini kekuasaan Micheda adalah tangan yang
tak kenal ampun dan tak ada pertanyaan yang harus dijawab.
‘Sebentar lagi kita akan sampai Pak.’ Ujar letkol Danniel.
Micheda hanya diam. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal;
kali ini Baldi harus berhasil diringkus. Hidup ataupun mati. Ia tahu selama ini
tekanan dari atasannya begitu kuat hingga beberapa kali ia harus pandaipandai
meyakinkan bahwa reputasinya bukan isapan jempol belaka. Walaupun Micheda
adalah seorang jendral, politik pasti punya cela. Dan selama ini ia selalu
memanfaatkan setiap cela yang menganga untuk reputasinya yang besar itu.
‘Seharusnya kau paham Danniel, operasi ini bukanlah operasi
yang diketahui oleh para atasan. Maka dari itu kau menjadi tanggunganku.’
Micheda serius dalam ujarannya. Biar bagaimanapun operasi yang tidak diketahui
Negara adalah operasi yang ilegal. Jabatannya dipertaruhkan dalam hal ini.
Sebab jika gagal, maka habislah semuanya. Jadilah ia seorang yang mampus dan
habis. Citra militer sebagai intitusi yang dijaga rapi selama ini akan runtuh
bagai bangunan keropos.
Truk yang membawa Micheda semakin dekat dari tempat Madah
dan Baldi berada. Truk dengan iringaniringan itu nampak kontras dengan desadesa
yang dilewatinya. Rapi dan terarah. Menuruni terjal jalan bebatuan. Berbaris
tanpa cela. Betulbetul menampakkan instruksi yang dibangun rapi dan
sembunyisembunyi. Sementara rumahan batu yang dilewati hanyalah bangunan yang
menyisakan ruang kosong. Berpetakpetak tak bersusun. Nampak kumuh dan
terbelakang. Masyarakat di bawah Negara yang politis adalah kerumunan
gerombolan yang sulit diatur. Politik memanglah batu keropos yang menampil purna
namun bolongbolong.
BALDI berhenti dari nyanyian mistisnya. Berdiri dan
meninggalkan madah dari tempat duduknya. Dia menghadap keluar dari jendela.
Diluar udara begitu panas dan kering. Baldi menatap jauh lurus tak bertitik.
Dilihatnya saja tanpa kepentingan. Seperti seorang anak yang baru pertama kali
melihat dunia. Serba baru dan terang. Baldi menemukan jenis kesadaran yang
lain. Kesadaran yang merongga untuk dijamah. Sebuah dunia yang baru pertama
kali ia saksikan dan akan ditinggalkan.
‘Dunia betulbetul misteri’. Gumam Baldi. Ia berujar namun
bukan untuk Madah. Ataupun sesiapa. Pernyataannya seperti bonsai kerdil yang
terasing. Tumbuh diam jauh dari bebungaan di tetaman. Sendiri dan pelanpelan
menjadi pohon tua yang kerdil. Kecil kemudian waktu datang dan memangkas
dedaunan menjadi kering yang jatuh pelan. Baldi merasa seperti bonsai. Sendiri
dan hanyalah titik yang menggenapi kekosongan.
Lama Baldi berdiri dan masih termangu pada lurus pandangnya.
Dunia dihadapannya tibatiba menjadi gegaris yang hanya membagi dua bayangbayang
dihadapannya. Bebayang yang tak kunjung benderang. Dan disinilah ia. Berdiri
pada simpul yang tak ia kenali. Tempat dimana debu menjadi pusaran
berbulatbulat. Bersama Madah. Bersama gulungan kertas yang digenggam Madah.
Sementara di tempat yang mirip barak itu, yang penuh dengan
orangorang yang kalah dari nasib, masih tetap sama; berbicara riuh pada
kekosongan. Ritme hidup yang terombangambing seperti layangan yang terbawa
angin. Terbang tanpa kendali tali yang memegang. Berputarputar pada langit
kemudian pelanpelan jatuh dan tersungkur. Seperti hidup dalam kubangan tai
saja. Dan memang hidup adalah kubangan busuk kotoran. Dimana kotorannya tak
lain berasal dari ampas politik. Dicerna dan kemudian membusuk.
Pada suasana seperti itu nasib hanyalah peruntungan
yang berteletele. Tak peduli dengan
bicara besar orangorang yang sok tahu. Aturanaturan yang tak jelas
peruntungannya untuk siapa. Negara yang seperti batu cadas diatas gunung, jauh
dan tak tahu diuntung. Dimana semuanya menampil seperti iblis yang kehabisan
darah, meronta namun kejam. Haus pada dedaging busuk membuat lambung
berputarputar seperti lintasan yang tak beraturan.
Kemudian tibatiba bunyi pintu terbuka. Seorang perempuan
masuk dengan rambut panjang yang berminyak.
Kulitnya putih pucat dengan dandanan yang dibuatbuat. Tubuhnya seperti daging
segar yang terus diawetkan. Bunyi sepatunya seperti tikus yang kelaparan.
Matanya jeli dan haus. Kehadirannya mencuri perhatian.
‘Ah ini dia Anita.’ Seorang laki tibatiba kaget dengan
kedatangannya. ‘ayolah nona buat kami tehibur..’
‘Bangsat kau, dasar tikus belang//pergi sana urusi istri
penyakitanmu itu.’ Hardik perempuan itu. Anita berjalan dengan acuh. Biarpun
bagaimana, Anita adalah perempuan yang punya pikirannya sendiri: lakilaki
selalu menganggap diri sebagai seorang raja. Yang tak memiliki kesetiaan pada
permaisurinya. Selalu menyimpan gundikgundik untuk dipermainkan. Hanya tahu
urusan birahi dan mabuk belaka.
Anita di tengahtengah orangorang yang dianggapnya sebagai
kucing kudisan memanglah perempuan yang serupa keju amis bagi tikustikus sawah
yang kelaparan di masa paceklik. Dia menjadi perempuan yang penuh kegairahan.
Apalagi ditengah jongosjongos yang berbau kecut dan bau.
Perempuan itu duduk tak jauh dari tempat Madah. Dari cara
duduknya jelas; mengundang desiran monyetmonyet busuk di sekitarnya. Belahan
teteknya menyerupai gundukan pasir yang padat menggempal. Terdiam ia disana
sambil mengamati. Beberapa saat dia seperti menyapu tempat itu dengan matanya.
Kemudian berhenti pada punggung Madah. Ia tersenyum kering. Terdiam dan
menjulur mata seperti serigala yang sedang mengawasi anak kerbau. Matanya
dijaga. Mengamati.
IRINGAN Micheda akhirnya memasuki desa. Sontak
orangorang banyak berlarian seperti sedang terjadi gempa bumi. Mencari tempat
perlindungan yang paling aman. Sebab cerita telah menyebar dimanamana, bahwa
jika Jendral Micheda datang maka panjang urusannya. Siapa yang berurusan dengan
Jendral ini, mampuslah ia. Orangorang tak mau menjadi babi hutan yang
dikejarkejar ujung senapan Jendral Micheda. Beberapa saat kemudian desa itu
menjadi lenggang seperti habis kebakaran. Yang ada hanya rumahrumah yang
ditutup rapat. Mapat pada engsel pintu masingmasing.
Micheda turun setelah anak buahnya menyisir tiap rumah yang
ada. Satu persatu pintu digedor dan diperiksa. Tanpa instruksi, bawahan Micheda
sudah tahu apa yang mesti dikerjakan. Mereka seperti program komputer yang
telah disetel. Terukur dan pasti. Tanpa banyak tanya Micheda berhasil
mendapatkan tempat orang yang dicarinya berada. Tak jauh dari tempatnya,
Micheda hanya butuh seorang yang mengantarnya menuju tempat Baldi berada. Biar
bagaimanapun ia tak tahu pasti dimana Baldi berada, yang ia tahu dari informasi
yang dia dapatkan bahwa Baldi berada di desa ini. Tak lebih tak kurang.
Tak lama kemudian ia sudah berada didepan bangunan dimana
Baldi dan Madah berada. Micheda tersenyum dan mengerahkan anak buahnya untuk
mengepung tempat itu. Sementara ia dan beberapa orang anak buahnya bersiapsiap
untuk masuk. Namun pada saat ia hendak melangkahkan kakinya, bunyi letusan
pelor mengagetkan semuanya. Entah dari mana datangnya suara itu, tetapi yang
jelas bukan dari anak buah Micheda. Letusan itu ternyata berasal dari dalam.
Kemudian terdengar bunyi susulan saling membalas. Beberapa saat kemudian
Micheda sudah didalam melepaskan tembakannya. Hanya kalah beberapa detik
setelah Micheda masuk, Baldi sudah melompati jendela yang berada didekatnya.
‘Keparat.’ Maki Micheda ketika melihat punggung Baldi hilang
dibalik jendela.
‘Berhenti kau Anjing.. Bangsat..’ Ia melepaskan tembakannya.
Baldi berhasil keluar dari rumah itu dengan melompati
jendela yang ada dihadapannya. Walaupun ia pincang ia tak kehilangan
kegesitannya.
‘Tak punya waktu untuk menjelaskannya anak muda.’ Baldi
menjawab pertanyaan Madah. Ia berlari dengan menarik paksa Madah. Tiga orang
anak buah Micheda sudah terkapar dibawah jendela. Madah tak tahu harus berbuat
apa. Tibatiba ia ditarik Baldi untuk melompati jendela. Siapa orang ini,
tibatiba dia dikejar seperti garong liar. ‘Dan sialnya turut melibatkanku pada
situasi ini?’
Baldi dan Madah berlari secepat suara guntur di musim
penghujan. Meninggalkan tempat itu. Menuju loronglorong yang dihimpit
bangunanbangunan kumuh. Melompati beberap kali gundukangundukan yang
menghadang. Di belakangnya Letkol Danniel mengejar mereka.
‘Sebelah sini Pak.’ Ia berteriak memberikan petunjuk.
Serentak Micheda dan beberapa anak buahnya mengikuti suara Letkol
Danniel. Mereka berlari berkejaran sambil meletuskan pelorpelor kearah Baldi
dan Madah.
‘Berhenti..!!! Keparat.’ Micheda memaki sambil berlari.
Baldi dan Madah berlari dan berbelok seketika pada ujung
lorong sementara desingan peluru berbunyi dibelakang mereka.
‘Apa maksud semua ini Pak Tua?’ Sambil berlari Madah berujar
penuh tanda tanya.
‘Jangan dulu engkau banyak tanya Madah, situasinya tidak
tepat..’ Sambil berlari Baldi berujar. Kemudian ia berbalik dan melasakkan
pelurunya kebelakang. Bunyi desingan mememakkan telinga.
‘Untuk saat ini kita harus keluar dari situasi ini, biar
bagaimanapun kau kau juga akan ditangkap oleh mereka, Sebab kau orang terakhir
yang dilihat berbicara denganku.’
Madah tak paham dengan maksud perkataan dari Baldi.
‘Ada apa semua ini? Kenapa tibatiba jadi runyam begini.
Kurang ajar..’ Batin Madah bergumam.
Mereka masih terus berlari. Sesekali Baldi mengarahkan
tembakannya kebelakang tanpa melihat. Ia hanya mengarahkannya begitu saja
dengan maksud melindungi dari serbuan tembakan Micheda beserta anak buahnya.
Sementara dibelakang mereka Jendral Micheda masih berlari dengan meletuskan
tembakannya dengan di ikuti oleh Letkol Daniel. Baldi dan Madah kemudian
berbelok tepat ketika sebuah pintu mereka lewati. Kemudian kembali melompati
gerobakgerobak yang ditaruh seenaknya oleh pemiliknya. Terus saat tibatiba
sebuah jalan buntu mereka dapati. Situasi yang berbahaya.
‘Bagaimana ini?’ Madah bertanya. Dilihatnya ada pintu
kemudian didobraknya begitu saja. Beberapa kali, kemudian bunyi keras terdengar
sepert dua benda padat berbenturan. Ternyata Baldi memukul gagang pintu dengan
popor pistolnya. ‘Dari mana orang tua ini mendapatkan pistolnya? Semenjak kapan
ia memilikinya?’ Batin Madah.
Mereka masuk dan mengendapengendap tanpa suara. Napas mereka
memburu. Keringat berjatuhan, bulirbulir asin dari pelipis membasahi. Sesaat
kemudian suasananya menjadi tenang. Yang terdengar hanya deru napas mereka.
Baldi memeriksa pistolnya. Revolver buatan entah dari negeri mana. Yang pasti
ia segera mengisi kembali pelurunya.
‘Kau harus selamat Madah..dan kuingatkan engkau untuk
menjaga apa yang nanti kau dapatkan dari gulungan kertas yang aku berikan
padamu’. Tibatiba Baldi berujar tanpa diminta.
‘Apa maksudmu pak tua.’ Madah merasa heran.
‘Sudahlah, nantipun engkau akan paham, ikuti saja apa yang
menjadi suara hatimu, yang terpenting kau harus keluar dari situasi ini, kau
harus selamat Madah.’ Baldi terburuburu dalam ucapannya. Tersimpan prihatin
dalam raut muka Baldi.
Di luar tibatiba terdengar suara orangorang yang berlarian.
Tak lama berselang tanpa mereka sadari mereka sekarang dalam kondisi sulit. Di
luar mereka sekarang dikerumuni oleh
pasukan Micheda. Tak lama kemudian terdengar suara Micheda.
‘Di mana mereka sekarang.’ Micheda berkata. Ia agak sedikit
terlambat dari aksi kejarkejaran itu. Dia seseorang yang sedik gempal.
‘Mereka tibatiba menghilang seketika jendral.’ Ucap pasukan
Micheda.
‘Keparat’. Tibatiba Micheda mengintruksikan untuk menyisir
setiap bangunan di sekitar mereka.
‘Ini jalan buntu,, mereka pasti bersembunyi disekitar sini.’
Ujar Jendral Micheda. Terlihat senyum kemenangan diwajahnya.
Serentak pasukan Micheda yang tersisa menggeleda
bangunanbangunan yang ada.
Baldi dan Madah sekarang dalam kondisi yang terjepit. Mereka
seperti tikus yang sebentar lagi akan dimangsa rubah hutan yang kelaparan.
Tetapi dari situasi itu Baldi menyadari kondisi yang mereka alami.
‘Kita telah dikepung Madah’. Baldi berbisik.
‘Saya tahu pak tua.’ Madah membalasnya dengan pelan.
Mereka berdua mengawasi dari dalam. Napas mereka masih
memburu. Mereka di situasi yang tidak menguntungkan.
‘Madah.. saya kira di sinilah akhir saya. Tugas saya telah
selesai.’ Baldi mengagetkan Madah dengan ucapannya. Ia merasa walaupun
bagaimana ia tak mampu lagi berlari jauh. Kakinya yang pincang menjadi batu
penghalang dari aksi menyelamatkan diri. Lagian ia merasa inilah saat ia harus
mengakhiri semuanya.
‘Apa maksudmu pak tua!?’
‘Saya merasa beruntung menemukanmu anak muda.. oh iya
Madah’. Baldi kembali berujar. Mukanya tersenyum.
Dalam situasi ini baldi menyusun rencana penyelamatan.
Mereka sadar bahwa mereka tak bisa lolos dari kejaran Micheda beserta anak
buahnya. Baldi sudah sampai pada batas tugasnya. Namun bukan berarti tidak ada
jalan keluar. Masih ada harapan bagi mereka.
‘Larilah ketika ada kesempatan Madah, saya akan menarik
perhatian mereka.’ Baldi menerangkan kepada Madah.
‘Tetapi Pak tua…!?’
‘Sudahlah Madah ikuti saja perintahku, tak mesti lagi kita
diskusikan panjang lebar, dan satu hal Madah, engkau harus menjaga gulungan
kertas itu dari Micheda.. Segeralah ..! Perintah Baldi.
Tanpa didugaduga Baldi menggebrak pintu dan keluar tibatiba.
Madah tak bisa menghentikan rencana mereka. Rencana sudah terlanjur dijalankan.
Aksi tibatiba Baldi mengagetkan Micheda dan pasukannya. Ternyata Baldi berusaha
menarik perhatian Micheda dan pasukannya. Ia menggiring Micheda dan pasukannya
untuk menjauhi bangunan tempat Madah bersembunyi. Beberapa detik kemudian Baldi
sudah dikepung Pasukan berlaras panjang. Micheda tersenyum, namun ia sadar.
Ternyata.
Tetapi sudah terlambat. Pada saat Micheda menyadari, pada
detik itulah Madah berlari melalui pintu belakang. Menyelinap secepat babi
hutan dari kejaran para pemburu. Dia berlari berputar menuju tempat yang tadi
mereka lalui. Melewati loronglorong, kemudian jalanjalan kecil yang
berbelokbelok. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi letusan. Seketika itu
Madah sadar, nyawa Pak tua itu telah melayang. Carlos de Baldi telah mati
ditembak Micheda. Tepat dikepalanya.
Menyadari situasi itu jendral Micheda mengerahkan pasukannya
untuk memburu Madah. Dia adalah orang yang terakhir berkomunikasi dengan Baldi.
Ia harus segera ditangkap. ‘Siapa anak muda itu?’ pikir Micheda.
Sementara itu Madah masih berlari. Menyusuri pinggiran desa.
Gulungan kertas yang berada di dalam tasnya ia genggam betul. Pikirannya
melayang pada sosok Carlos de Baldi. Orang yang tibatiba datang menemuinya dan
kemudian mati demi dia. Betulbetul sosok yang misterius. Bicaranya seperti
orang yang sok tahu, persis seorang peramal. Dengan tampilan seperti orang
sirkus keliling, tetapi pandai menggunakan senjata api. Dan semenjak kapan dia
memilikinya? Seingat Madah sewaktu mereka berbicara tak sekali pun senjata api
itu ia lihat. Dan apapula gulungan kertas yang ia berikan? Lantas kemudian apa
maksud dari perkataannya bahwa dirinya harus selamat dan menjaga gulungan
kertas ini. Betulbetul orang yang misterius. Seperti ruang gelap yang ditutupi
tirai panggung. Gelap dan sulit diterka. Madah masih berlari. Jauh menghindar
dari pencarian jendral Micheda. Namun dari semua itu pikirannya penuh
pertanyaan yang sulit ia jawab. Ia masih terus berlari. Untuk kesekian kalinya
Madah mengalami aksi kematian yang tragis. Kali ini demi nyawanya. Carlos de
Baldi orangnya.