Dialog Sisifus
“Maaf, dia sudah menjadi bangkai di hadapanku. Tak beda
dengan hidup mayat yang ditilap tanah
kubur”.
Gema adzan gaung di udara.
Sekali lagi yang sakral berterbangan di atas kumuh rumahrumah. Dengung
sirine mengaum di seberang jalan, sepertinya ada yang celaka di luar sana.
Tetapi hujan kali ini turun dengan ritmik. Melodik.
“celaka.. pengertianmu, penilaian tentangnya.. akh kau
berlebihan”
Suatu hari ketika waktu telah senggang. Deru pabrik berhenti
bertalu di pinggiran kota.
“sudahlah.. tiada yang kekal, tuhan tak mungkin untuk
dibela, toh kalau dia sungguh ada, mana mungkin kita membenarkan nasib ini”
“itu hanya peruntungannmu saja, untung tuhan tidak ada,
untung malaikat tidak ada, untung dunia hanya sementara, dan…”
“untung kita masih hidup kan?!!!”
“tapi harus bagaimana lagi, kita sudah kepalang nasib"
“akh sudahlah, hentikan celotehanmu, ayo gegas, kita kerja
lagi, sana pintu pabrik sudah kembali buka”
(2)
Deru mesinmesin raksasa mulai memekakkan telinga. Berputar
dengan mekanismenya yang rapi. Sesekali bunyi gesekan dan benturan beriringan
mengisi jedah kosong. Sementara keringat cucur sembari mesin bertambah panas
membakar uap udara menjadi pengap. Gema adzan sudah sedari tadi berlalu, tiada
yang menyadari, di suasana ini, pengap dan asin keringatlah yang sungguh nyata,
tiada yang berasal dari langit ketujuh di sini.
“bangsat kau, sudah berapa kali ku bilang, itu bukan untuk
disimpan. Kerja bodoh, kerja !!!”
Orang yang dibentak meranggas, air muka bukannya memelas. ia
tahu ini hanya soal posisi, keberanian tidak berarti bukan haknya.
“Asu, cari maut kau?!! Ingin pendek umurmu dibikin bau
tanah?!! Dasar orang kampung!!! Kerja sana”
Madah tersenyum kecut. Sudut matanya tajam menghardik pada
orang di hadapannya. Ia bergegas kembali bekerja.
Pabrik ini memanglah besar. Dari sinilah nyawa orangorang
seperti Madah bergelantung. Dari semenjak matahari mulai merangkak hingga ciut
dari angkasa mega, tenaga serta cucur keringat dikerahkan. Menjalankan semi
mesin yang masih mengandalkan mesin diesel. Di mana waktu dicuri dari selasela
jam yang kian banal untuk dimaknai. Waktu memanglah relatif. Tetapi di pabrik
ini waktu begitu lamban menguap, pun juga pikiran. Tetapi tidak dengan tenaga
mereka, serta merta melepuh hingga akhirnya hambar tergantikan bau oli yang
menyenyat dada.
Mesinlah yang abadi.. di tiap pergantian lompatan detik..
Waktu ke waktu hanya satu hal. Di pabrik, Madah dengan
ribuan orang sepertinya hanya membuat bongkahan piring dari alumunium yang
mirip gunung berkawah. Tenaga mereka habis di hisap oleh lubangan yang mereka
tumbuk berkalikali. Meratakan, menumbuk, meratakan, dan menumbuk. Begitu
seterusnya. Sementara di luar sana, tenaga mereka tergantikan melalui mekanisme
jual beli yang tak mereka pahami logikanya. Namun satu hal yang mereka ketahui
dari kesadaran mereka. Di sana, apa yang disebut dunia, kekayaan tengah
berporos pada satu tatanan tunggal; tuantuan kapitalis.
“beginilah nasib kita kelak, seperti piringpiring ini,
ditumbuk dan diratakan”
“Maksudmu? Apakah kau sudah terpengaruh omongan si mulut
besar itu”
“Menurutnya neraka seperti ini, mirip pabrik ini, banyak
kerumunan orang dan panas”
“Sepertinya kau sudah mulai mengyakininya, pengkhotbah itu
memang penceramah ulung” Madah nampak heran.
“Menurutku pengkhotbah itu ada benarnya juga. Kalau agama
itu pilihan yang salah, kenapa masih banyak yang mengikutinya?”
“Bodoh kau ini, itu karena tukang khotbah itu menjual
sihirnya kepada kawankawan yang tak pakai otak, sehingga yang ada adalah ketakutan
untuk tidak beragama”
“Akh, kau ini adaada saja”
“Yang adaada itu dia, bicara tidak pakai otak.. toh kalau
agamanya benar, keadaan seperti ini tak mesti kita alami”
(3)
Gaung lonceng menggema. Mirip denting bel gereja kala
mengundang jemaat. Tetapi itu tanda pekerja harus mengambil waktu istirahat.
Tidak lebih dari limabelas menit adalah waktu yang diberikan. Pada kesempatan
inilah mereka keluar mencari makan. Pergi berkerumun pada warungwarung kecil
yang menyediakan kudapan goreng dan kopi hitam. Di sanalah seakanakan mereka
menjadi bagian dari masyarakat. Merasa memiliki kolektivitas, selera yang sama,
cara pandang yang sama. Namun mereka mengerti, nasib mereka hanyalah batu
topangan bagi raksasa industri kapital. Dari sudut pandang ini, mereka tak
keluar dari batas rejim kuasa dalam memaknai mereka; buruh lepas.
“Ah Madah, di sini kau rupanya” Pengkhotbah tibatiba muncul
dari seberang jalan.
“Ada apa lagi kau mendekatiku?!! Pergi sajalah ke kelompok
Sukri, di sana bujuk rayumu akan cepat laku”
“Sabar Madah, sabar.. maksudku bukan mempertengkarkan
kembali omongan kita kemarin, toh kamu sudah kepalang punya tembok besar dalam
hatimu”
“Dan tuhanmu tak punya kuasa untuk menaikinya” sergap Madah.
Pengkhotbah tersenyum.
“Maksud perjumpaanku denganmu untuk usut soal serikat tempo
kemarin. Si Juling ingin bergabung dalam gerakan kita, soalnya ia capek di
remehkan oleh pekerja lainnya. Ia merasa aman jika ikut bergabung”
“Bisa apa dia?”
“Entahlah, tetapi ia bisa kita tempatkan sebagai kurir kita,
dalam aksi nanti ia kecil dicurigai”
“Ya sudahlah..ia dalam pengawasanmu setelah perbincangan
ini”
“Selesailah kalau begitu”
(4)
“Kau tahu Sisifus? Seorang yang memiliki nasib yang tragik?”
“Siapa dia” Pengkotbah heran.
“Akh kau ini, yang kau tahu kisah nabinabimu saja, omongan
itu saja yang kau khatami”
“Lantas siapa dia?”
“Kalau kau ingin bicara nasib tengoklah si Sisifus, kalau
kau ingin paham derita pahamilah si Sisifus.. toh kalau kau sesumbar bicara
semangat untuk hidup kau harus tahu siapa dia.. orang yang dikutuk mendorong
batu dari dasar hingga puncak bukit dan akhirnya harus kembali dan mendorong kembali hingga ke puncak.. dan
begitulah seterusnya..tapi satu hal yang harus kau terima bahwa ia tak
surut..tak pantang berhenti.. baginya nasib adalah pergolakan terus menerus…”
“Apa yang membuatnya
mengalami kutukan itu?”
“Membocorkan rahasia dewadewi”
“Mirip malaikat yang mengetahui rahasia tujuh langit”
“Mungkin, tetapi ia hidup, dia manusia, dia di tengahtengah
pasang surut keringat, baginya tragedi adalah kehidupan itu sendiri, baik buruk
hanyalah gelembung yang mudah pecah.."