Homosad



”AYO kita pergi.. kau tidak lihat yang menggelantung di atas sana? Gelap sudah langitlangit..”

“Sebentar lagi kawan.. soal kita belum beres.. cepat urusi bangkai yang sebelah sana”

Kota kecil yang ditimpa bencana memang sudah seperti peti mati besar. Rumahrumah  yang ditinggal dan menyisakan debudebu yang tebal, jalanjalan yang seketika melintang seperti ular yang pulas, terisi kekosongan, dan mayatmayat yang ditinggal tanpa peduli adalah etalase yang mempertunjukan sisi lain kehidupan; tragedi.

Dalam tragedi apa yang nampak diomongkan dan  diyakini pada akhirnya melapuk kemudian jatuh berserakan. Persis seperti gunduk abu yang  dihempas beliung. Dalam  tragedi yang disebut hidup sesungguhnya adalah situasi yang seketika berubah, drastis dan memilukan.

“Sudahlah.. lupakan mayat itu.. kali ini kita sudahi.. dan jangan lagi kau gunakan kata itu, mereka bukan mahluk tanpa jiwa.”

“Kau ini, mati ya mati.. tak usah kau turutkan perasaanmu dalam urusan seperti ini.. beda apa kita dengan binatang di hadapan hidup.”

“Keras kepala kau.. ayo di sana ada reruntuhan yang bisa kita pakai..di sana sepertinya kosong.”





HIDUP? Apa lagi yang harus diungkapkan? Tentang larung nasib yang ditingkap senja misteri. Menyandera harapan hanya sebatas visi di atas ubunubun. Sementara dunia berjalan tanpa menyisihkan kepastian bulat dalam genggam. Di alur seperti inilah, di tengah pasca kejatuhan kota yang pelanpelan digerogoti kelaparan berkepanjangan, mereka berdua menjadi seperti Nazar, burung pemakan bangkai, mematuk sanasini pada yang mati, mencari apa saja yang bisa diambil, pakaian, sapu tangan, ikat pinggang, sepatu, bahkan kalau beruntung seikat jam tangan. Tetapi kebanyakan adalah pakaian yang dikenakan mayat. Entah sudah berapa mayat yang ditinggal tanpa pembalut kain. Tapi apa artinya pakaian bagi bagi yang telah mati. Ditinggal sanasini tanpa kemaluan. Pun, apa juga arti malu bagi yang sebentar lagi membusuk. Sehingga yang sisa adalah rupa mayat di kala pertama kali datang ke dunia, dan pergi dengan tubuh yang telanjang.

Di bawah reruntuhan;

“Hei coba kau lihat apa yang ku dapat.. sebuah foto..  perempuan ini barangkali sangat di cintainya, sampai aku harus mematahkan jari bangkai sialan itu untuk foto ini.”

“Mau kau apakan foto itu..barangkali ia juga sudah jadi seperti yang lain.. jatuh terkelungkup garagara bencana ini.. dan sudah berapa kali aku harus mengingatkanmu, jauhi kata itu, biarpun bagaimana mereka manusia.”

“Ah berhentilah untuk mengaturku dengan omonganmu.. tapi coba kau lihat gambar di balik wanita ini.. tahukah kau di mana ini?” Ia menjulurkan tangannya.

Gambarnya sudah nampak kabur.

“Entahlah.. mungkin jauh di suatu tempat sebelah selatan”

“Demi tuhan..” Lelaki itu kaget. “Mungkinkah cerita orangorang itu bukan omong kosong.”

“Mungkin, tapi jika cerita itu benar, sudah pasti tempat ini sudah lama ditinggalkan. Aku pun juga akan pergi, dari pada hidup berdampingan dengan bencana seperti ini.. entah sampai kapan kutukan ini punya hujung.. aku sudah tak tahan dengan cara kita hidup”

“Maksudmu mengais di antara bangkaibangkai itu?”

“Yang mana lagi aku maksudkan!”

“Tetapi hanya dengan cara itulah kita bisa bertahan, hidup dari bangkaibangkai itu.”

“Aku sudah muak, kelaparan ini membuat kita sudah mirip binatang. Hidup dengan cara binatang membuatku pelanpelan kehilangan akal.”

“Hahaha..akhirnya kau akui juga bahwa kita adalah onggokan daging yang masih bertahan di antara bangkaibangakai itu.”

“Tutup mulutmu keparat.. bukan seperti itu yang harus kau tangkap dari bicaraku, bicara denganmu dengan situasi seperti ini sama halnya seperti kehilangan akal sehatku.. dan sudah berkalikali aku katakan jauhi kata itu bangsat!”

“Berhentilah urusi katakataku anak jadah.! Biar bagaimanapun mereka sudah mati. Mereka tak akan mempersoalkan apa omonganku!”

“Bangsat kau, berhenti memanggilku dengan sebutan itu..!!”

“Baik..baik, kenyatataan saya kira demikian, sama pastinya dengan ketidakpastian hidup kita.”

“Bangsat kau”





NASIB bukanlah kepastian yang dapat diringkus. Tentang jalan hidup yang sulit diberikan kepastian, apalagi tentang sebuah hujung. Tiada yang dapat dipilah dalam nasib, begitu juga nasib adalah chaos yang tak berujung. Maka dua orang ini hanyalah titik yang terpental di dalam ketidakpastian. Dengan cara mengambil dari yang dapat terselamatkan dari mayat, apa yang bisa digubah untuk keberlangsungan hidup yang tragis. Maka di hadapan ketidakpastian, hidup hanyalah soal seberapa kuat busung menahan napas, dan seberapa lemah busung dikendurkan.