di suatu sore
ketika matari kita mengejanya dengan tanpa melupakan
rembulan
juga yang lain; permukaan air yang naik turun, segaris
lazuardi yang jadi bayangbayang, dibelakang jalan juga makin gelap, serta
orangorang yang tak kita kenali
suatu sore itu tak berarti cuman sebentar
juga sebenarnya waktu berhenti
dan didalamnya abadi
tapi kita berdua beradu musim
matari begitu cepat turun
rembulan tak disangkasangka juga turun
dan waktu, detak yang pernah abadi jadi detik yang cepat
semuanya tetiba berubah
tak menyangka sebelumnya; di sinilah kita
suatu sore yang sudah tak sama
walau matari masih dieja dalam arti rembulan yang naik juga
turun; dibelakang jalan sudah sepi, orangorang menghilang, juga nampak
dikejauhan air hanya segaris lurus yang tak putus
sepikah ini, benarbenar bedakah memang sekarang, walau di
suatu sore ejaan kita juga tak pernah berubah
atau justru sebenarnya tak ada yang betulbetul berubah,
selain kita
di suatu sore yang jalanjalan kembali ramai, orangporang
kembali duyun berbondong, juga air yang kembali naik turun. Dan di jauh sana,
lazuardi sebenarnya tak pernah berubah warna
di suatu sore, di langit yang sudah berbeda, lazuardi masih
seperi dulu
ketika kita duduk mengeja warna yang sama